Menulis Resensi, Menjadi Katalisator Dialog Pengetahuan

Oleh Much. Khoiri

Penulis adalah produsen pengetahuan, yang mengkreasikan pengetahuan dari gagasan atau ide yang terinspirasi oleh atau bersumber pada pengalaman, pikiran, perasaan, renungan, dan sumber lainnya. Jika dia menulis dari sumber buku berisi pengetahuan tertentu, maka hakikatnya dia telah mereproduksi pengetahuan baru.

Itulah kedudukan penulis resensi atau review buku. Dia memahami buku yang diresensi, menjadikannya pengetahuan dalam dirinya, menginternalisasinya, lalu memikirkan dan merenungkannya untuk kemudian menulis resensi. Itulah mengapa hasil tulisannya disebut resensi buku, tinjauan buku, timbangan buku, dan sebagainya—yang isinya bukan hanya menjelajah isi buku, melainkan pula menilai buku tersebut.

Sebagai peresensi, penulis tentu sengaja memiliki itikad atau niat untuk menebarkan pengetahuan itu kepada masyarakat pembaca—bukan hanya untuk disimpan bagi diri sendiri. Dia sengaja menawarkan “iming-iming” isi buku yang telah dibacanya kepada masyarakat agar mereka segera tertarik untuk turut menikmatinya.

Kover buku Resonansi Narasi. Sumber: Dok Kamila Press

Demikianlah peran para penulis resesi di dalam buku Resonansi Narasi yang Anda pegang ini. Ibaratnya, mereka sedang bertindak seperti Plato yang telah menuliskan pikiran-pikiran Socrates agar dibaca oleh masyarakat Yunani. Mereka menyegerakan kehadiran buku-buku yang mereka resensi kepada pembaca, agar pengetahuan segera dapat dinikmati dan mungkin akan direproduksi oleh masyarakat.

Dengan demikian, penulis resensi telah bertindak sebagai katalisator terjadinya dialog pengetahuan. Sebagaimana katalisator dalam proses kimia, penulis resensi memfasilitasi agar terjadi peluang awal untuk percepatan proses “kimia” antara pembaca dan penulis buku yang diresensi.

Bagaimana pun, dalam membaca sebuah buku, pembaca aktif melakukan dialog pengetahuan lewat proses berpikir di dalam dirinya. Dialog pengetahuan secara personal itu akan menghasilkan pengetahuan baru, baik hanya dipendam dalam pikiran maupun ditulis maupun disebarkan lagi kepada orang lain.

Dari buku yang dibacanya, pembaca memiliki pikiran dan kesadaran yang tercerahkan untuk melakukan tindakan—suatu kemampuan yang disebut oleh sosiolog C. Wright Mills (dalam Haralambos & Holborn, 2000) sebagai imajinasi sosiologis (sociological imagination). Mereka dengan imajinasi sosiologis memiliki motor penggerak, power atau kekuatan imajinasi dalam dirinya untuk kondisi ke depan yang dibayangkan dan diinginkan.

Tak diragukan lagi, sebagai katalisator dialog pengetahuan, para peresensi dalam buku ini memiliki imajinasi sosiologis. Mereka menciptakan ruang diskusi dialogis antara penulis buku dan pembaca resensi. Bahkan mereka memiliki kekuatan untuk menggerakkan pembaca untuk melakukan dialog pengetahuan dengan buku-buku yang ditawarkan. Mereka sedang menebarkan virus literasi untuk menjadikan pembaca sebagai katalisator dialog pengetahuan baru pada saatnya.

Demikianlah rangkaian produksi pengetahuan berlangsung (meski tidak disadari oleh kebanyakan kita), dan demikian pula proses peradaban dibangun lewat praktik-praktik literasi menulis yang terakumulasi secara masif. R.B. Downs (2001), lewat bukunya Buku-Buku Pengubah Sejarah, menggambarkan bagaimana buku telah berdampak besar bagi kebudayaan atau peradaban manusia. Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang telah mempraktikkan literasi menulis dewasa ini memetik kemajuan lebih pesat daripada bangsa yang hanya mengagungkan budaya lisan.

Sejak zaman Yunani, kedigdayaan literasi telah membuktikan kekuatannya. Dulu filosof-filosof Yunani menulis hasil pikiran mereka, sehingga masyarakat dan generasi penerus dapat membaca dan mempelajarinya—tanpa harus berguru langsung kepada Socrates, Plato, dan lainnya. Perantaranya artefak praktik literasi berupa tulisan.

Jujur kita akui, bahwa masyarakat Athena dan dunia menjadi paham tentang kebijaksanaan dan pemikiran Socrates berkat tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh Plato. Kekuatan tulisan membuktikan bahwa, sehebat apa pun manusia, dia akan hilang dalam sejarah jika pemikirannya tidak dituliskan. Kita sebagai penikmat dan pembelajar filsafat tidak akan mengenal Socrates andaikata dulu Plato tidak pernah menulis tentang pemikiran dan kebijaksanaannya.

Sampai di sini kita bisa menggarisbawahi bahwa lewat tulisan para filosof Yunani dan penerusnya “mendidik” masyarakat secara masif. Budaya tulis ini tidak terjadi pada bangsa Mesir yang sudah hadir sebelumnya di muka bumi ini. Dan kini kita bisa menyaksikan mana yang lebih berpengaruh dalam dunia pemikiran di antara keduanya.

Oleh karena itu, saya mengapresiasi para penulis resensi dalam buku ini, karena mereka telah hadir dengan resensi-resensi mereka (yang beragam isinya dan caranya) untuk mempercepat dialog pengetahuan yang pada ujungnya merintis jalan bagi kehidupan masyarakat madani yang berbudaya literasi.

Akhirnya, untuk pembaca budiman, selamat mengarungi buku kumpulan resensi ini, serta menindaklanjutinya dengan membaca buku-buku yang diresensi. Setelah itu, terserah Anda apakah hanya menyimpan dalam hati ataukah menulis resensi atau memproduksi pengetahuan baru dengan cara Anda sendiri.

Referensi

Downs, R. B. (2001). Buku-Buku Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Tarawang Press.

Haralambos, M. & Holborn, M, eds. (2000). Sociology: Themes and Perspectives, 5th edition. London: HarperCollins.

Koiri, M. (2025). Menyalakan Ilmu: Menulis dengan Pendekatan Multi-,Inter-, dan Transdisipliner. Dalam Setya Yuwana Sudikan, dkk. Eds. Seni, sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner. Surabaya: Unesa University Press, xiii-xxiv.

*Much. Khoiri adalah nama pena dari Dr. Much. Koiri, M.Si, dosen Creative Writing dan Kajian Sastra/Budaya dari Unesa, sponsor literasi, founder Rumah Virus Literasi, editor/penulis buku bersertifikat, dan telah menerbitkan 81 buku.

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 79 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022), Menyuarakan Creative (Nonfiction) Writing dari Ruang Ketiga (2024)

8 thoughts on “Menulis Resensi, Menjadi Katalisator Dialog Pengetahuan”

  1. Sri yanto says:

    Tulisan Abah selalu menginspirasi..

  2. Mukminin says:

    Alhamdulillah, terima kasih Abah Khoiri yang memberi kata pengantar buku ini dg Penceràhan Baru tentang mererensi buku dan manfaatnyà bagi pembaca.

  3. Fety Susilawatie says:

    Tidak pernah bosan membaca tulisan-tulisan Abah Khoiri. Matur nuwun Abah utk ilmu, motivasi dan tauladan yg sdh diberikan pd kami selama ini

  4. phim heo sex says:

    Hi there to all, for the reason that I am genuinely keen of reading this website’s post to be updated on a regular basis. It carries pleasant stuff. https://heosexhay.net/

  5. Hibe says:

    Atık Yönetimi sistemimizi düzenleyerek geri kazanım oranlarımızı artırmamızda EcoSinerji Proje, Uygulama ve Danışmanlık Ofisi etkili çözümler sundu; bilgi için https://ecosinerji.com

  6. Aldo Peck says:

    Awesome! Its genuinely remarkable post, I have got much clear idea regarding from this post

  7. xn88. says:

    xn88. không chỉ là nơi đặt cược – đó là không gian giải trí đẳng cấp, nơi mỗi vòng quay đều mang theo hy vọng và niềm vui. Hãy đăng ký ngay hôm nay để bắt đầu hành trình của bạn! TONY04-03O

Leave a Reply to phim heo sex Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *