Saat Tidur, Tiada Beda antara Pring-Bed dan Spring-Bed

Oleh Much. Khoiri

Akhirnya Dulgemuk menginap—tepatnya diinapkan oleh panitia—di Q Hotel Sangatta, yang terletak di Jalan Yos Sudarso no. 2/17 Komplek Thomas Square blok E11, Sangatta. Persisnya di Kamar 209, selama empat hari. Dari lokasi pelatihan maks. hanya 2 kilometer, dan jika ditempuh dengan Veloz, tak lebih dari duapuluh kedipan mata.

Ketika Dulgemuk di-check-in-kan tadi, panitia meminta maaf karena Dulgemuk diinapkan di hotel ini. Sebabnya, hotel yang semula direncanakan untuk penginapan Dulgemuk (sebagai tamu dan nara sumber pelatihan), sudah fully-booked untuk kegiatan sebuah lembaga pemerintahan. “Mudah-mudahan Bapak kerasan di sini, meski tidak sebagus hotel tadi.” Dia menyebut nama hotel itu. Maaf, tidak perlu saya beritahukan kepada Anda.

Kartu kunci Q Hotel Sangatta. Sumber gambar: Dokumen hotel dari websitenya.

Dalam batin Dulgemuk sebenarnya bertanya-tanya mengapa panitia merasa perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak salah dilakukannya. Pantesan kalau dia itu pejabat kabupaten, apalagi pejabat provinsi. Lha dia bukan pejabat apa pun juga—hanya seorang dosen, sponsor literasi, editor dan penulis buku. Itulah bukti kesopan-santunan yang agak berlebihan. Dan rasanya itu bukan sekadar basa-basi.

Karena itulah, tanpa berpikir lama, Dulgemuk langsung menyahut, “Tidak perlu minta maaf. Saya yang berterima kasih. Insyaallah saya kerasan.” Dulgemuk mentangkupkan dua tangan di dada. Senyumnya mengembang, seperti saat notifikasi klunthing gajian dan remunerasi masuk ke WA kantornya.

Dengan sikap sopan panitia itu menegaskan,”Kami khawatir kalau kamarnya kurang nyaman untuk Bapak.” Sekali lagi, panitia ini masih tampak merasa bersalah. Alangkah baiknya hati orang ini.

“Saya ini orang lapangan, biasa tidur di mana saja,” jawab Dulgemuk dengan tenang. “Lagian, kalau sudah tidur, tidak ada bedanya antara Pring-Bed dan Springbed.”

“Pring-Bed dan Springbed?”

“Pring-Bed dan Springbed. Wujudnya memang beda, tetapi hakikatnya berfungsi sama.”

Panitia itu tampak belum menangkap maksud Dulgemuk. Dia tampak menelan ludah. Akhirnya, Dulgemuk menjelaskan: “Begini, Pring-Bed adalah tempat tidur yang alasnya terbuat dari bambu yang telah digeprek dan disusun di atas dipan, dilambari tikar pandan. Sementara, Spring bed, tentu,  tempat tidur empuk yang ada di kamar hotel atau rumah dewasa ini.”

Panitia itu tampaknya bukan berasal dari Jawa, sehingga dia tidak familiar dengan Pring-Bed. Terlebih, dia masih muda, generasi yang mungkin tidak lagi mengamalkan budaya leluhurnya.

Dulgemuk melanjutkan, bahwa Pring-bed dan Spring-bed memang tempat tidur yang di depan mata berwujud berbeda. Pring-bed tidak lembut, kasar, bahkan meninggalkan bekas di punggung tatkala orang bangun tidur; sedangkan springbed itu lembut, nyaman ditiduri, bahkan tidak menyisakan bekas di punggung.

Demikian pun, ketika berangkat tidur, keduanya juga memberikan sensasi yang berbeda. Jangan ditanya lebih enak mana. Setiap masyarakat memiliki kecintaan tersendiri akan budaya lokalnya. Nenek moyang kita amat mungkin kerasan di atas Pring-bed; dan malah “salting” (salah tingkah) kalau dipaksa tidur di hotel mewah seharga 4 jutaan per hari. Orang Eropah akan memiliki sikap yang tak jauh berbeda.

“Jadi, benar yang saya katakan tadi. Kalau sudah tidur, tidak ada bedanya antara Pring-Bed dan Springbed,” begitu tegas Dulgemuk. Dia kelihatan puas karenanya.

Panitia itu tersenyum, memahami apa yang dihumorkan Dulgemuk pada seore itu. Tak lama kemudian dia memohon diri, dan pulang.

Dulgemuk merebahkan tubuhnya ke Springbed, dengan bed-cover putih—seperti biasanya ada di hotel-hotel lain. Maaf, saya tidak mendeskripsikan seluruh isi kamar 209 ini, khawatir Anda penasaran dan mendatangi hotel ini untuk menyelidiki apa yang telah Dulgemuk lakukan di dalamnya. Bukankah Dulgemuk juga memiliki privasi? Ah, bukan, sekilas saja ya, ada almari, meja kerja, kursi, pesawat tivi 30-40 inch, satu set ngopi atau ngeteh, kamar mandi, dan balkon. Ya, balkon ini menghadap parkiran di mana Veloz putih itu berada.

Dulgemuk menikmati sejuknya AC kamar. Dibayangkannya masa kecilnya dulu di sebuah desa di Kabupaten Madiun, ketika di masih seusia SD dan SMP, dia sering merebahkan diri di gubuk sawah orangtuanya. Angin yang berhembus juga sangat menyejukkan, terlebih tatkala burung-burung pipit beramburan meninggalkan area pesawahan padi yang dia jaga. Terlebih kalau dia sudah kenyang berkat bekal ketela rebus atau nasi pecel bungkus. Dalam kondisi kenyang, Dulgemuk bisa tertidur pulas di atas gubuk beralaskan gelaran bambu alias pring.

Sejatinya, kepada panitia tadi, Dulgemuk ingin menyampaikan pesan, bahwa secara hakikat, selama tidur, orang tetap merasakan pengalaman yang sama, entah di atas Pring-bed, entah di atas Spring-bed. Sebab, tatkala sudah tidur, tubuh tidak lagi merasakan apa-apa, karena ibarat kendaraan, ia sedang diistirahatkan. Jiwanya berjalan-jalan entah ke mana—mungkin ke jalan yang terbaik akibat doa-doa yang dipanjatkan menjelang tidur; atau mungkin ke jalan-jalan yang buruk dan menakutkan akibat kelupaan berdoa. Di dalamnya orang tidur bisa berkelana di dalam dunia mimpi.

Itulah mengapa dalam keyakinan Dulgemuk, ketika orang sedang tidur, orang itu sejatinya sedang dimatikan. Dimatikan artinya dia tidak mampu melakukan kegiatan-kegiatan fisik apa pun juga. Lebih yakin lagi, setiap bangun tidur, Dulgemuk terbiasa memanjatkan doa setelah tidur: “Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur. Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan (mematikan) kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.”

Begitulah, Dulgemuk tidak terlalu mempedulikan tidur di mana. Artinya, Q Hotel Sangatta sudah cukup bagus untuk mengistirahatkan jasmani dan rohaninya. Toh baginya, dalam pengalamannya, tidak perlu menyediakan tempat tidur yang terlalu nyaman tatkala sedang dalam tugas. Jika terlalu nyaman, bisa-bisa dia tidak bisa terbangun malam, kemudian menunaikan tahajjud dan menulis.

Bahkan, di rumah sendiri, Dulgemuk memiliki perpustakaan keluarga yang di salah satu sisinya ada undakan 1×2 meter setinggi 60 cm. Di situlah dia memasang kasur lipat tipisnya tatkala dia perlu merebahkan tubuhnya ketika lelah setelah membaca atau menulis. Prinsipnya, tidur itu tidak perlu lama, yang penting berkualitas. Khusus untuk kasur lipat di undakan itu, Dulgemuk tidak menggunakan yang tebal, agar tidak terlalu nyaman. Sebab, di ruangan perpustakaan itu tugas utamanya adalah belajar dan menulis—bukan tidur!

Sore itu Dulgemuk hanya ingin beristirahat. Dia menyetel televisi, tetapi ternyata tidak ada acara yang menarik. Tentu, itu bukan karena tidak bagus, tetapi karena Dulgemuk tidak tertarik. Dulgemuk memang rada absurd orangnya. Kepribadiannya gabungan koleris kuat dan melankolis. Dia punya kemampuan leadership yang bagus, sekaligus punya kebiasaan memikirkan segala sesuatu secara mendalam. Itulah mengapa, hanya sedikit acara televisi yang mampu mempesona perhatiannya—selebihnya dianggap hanya sampah.

Nanti malam Dulgemuk berencana untuk memenuhi undangan panitia untuk makan malam. Sekali lagi, rencananya, Dulgemuk akan diajak serta ke rumah makan Sari Laut di mana dia bisa menikmati menu-menu berbasis ikan laut dan sayuran pelengkapnya. Bahkan, katanya, kelapa muda tersedia di sana. Ah, alangkah sedapnya membayangkan, apalagi nanti saat menikmatinya.

Sangatta, Maret 2024

*Much. Khoiri—alias Much. Koiri—adalah dosen Kajian Sastra/Budaya, Creative Writing, dan Literasi, serta sponsor literasi, penulis dan editor berlisensi. Kini telah menerbitkan 74 buku. Tulisan ini pendapat pribadi. 

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

12 thoughts on “Saat Tidur, Tiada Beda antara Pring-Bed dan Spring-Bed”

  1. Mukminin says:

    Mantan dan keren= MAREN Bah. Terus menginspirasi. Matur nuwun

  2. Andi Nurlindawati dari 007 Sangatta Utara says:

    Terus menginspirasi Abah Dul, terima kasih🙏

  3. N. Mimin Rukmini says:

    Sarapan pagi yang enak. Info dari tempat tidur, dan tidur. Sehat selalu Bah! Terima kasih!

  4. Sri Rahayu says:

    Pring-bed terasa amat nyaman ketika rasa kantuk mendera…walau ada kutu busuk yg mengintai…
    Sip markosip…asupan pagi untuk menjernihkan jiwa …
    Matur kasih Pak Emcho…
    Sehat selalu nggih…

  5. Terima kasih sudah memberikan sarapan bergizi pagi ini

  6. Luthfiyah N says:

    Dulgemuk…
    Semoga suatu saat jadi Dullangsing.
    Tulisan yang keren, seperti biasa.

  7. Sholikhatul Jannah says:

    MasyaAllah cerita yang sangat menginspirasi dan keren dalam kehidupan yang nyata dipadukan dengan bahasa Jawa yang khas. Sehat selalu bapak

  8. Abdisita says:

    Benar tidak ada bedanya. Dulu ketika tinggal di desa saya tidur di lincak alias Pring Bed. Enaknya tidur di tempat kasar adalah Allah ta’ala memudahkan kita untuk bangun malam untuk salat tahajud. Insya Allah

  9. Widut says:

    Bedanya waktu bangun. Pringbed ke badan sakit jarem2. 😂😂😂🙏🙏🙏

  10. Sumintarsih says:

    Ternyata kita sudah mendahului punya, Pring Beda, ya Pak?
    Hehe ..

  11. Floydgam says:

    mexican border pharmacies shipping to usa: Online Pharmacies in Mexico – medicine in mexico pharmacies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *