Sekelumit Abstraksi Terbang Naik Pesawat

Oleh Much. Khoiri

SEBELUM pertama kali naik pesawat terbang, saya membayangkan: Jika saya bisa naik pesawat, saya akan duduk di dekat jendela. Dengan cara itu, saya akan menyaksikan pemandangan apa saja di luar pesawat, mulai pesawat take off, menembus angkasa, memainkan manuver, dan sebagainya hingga mendarat kembali. Dalam bayangan saya, semua yang di luar pesawat akan tampak indah, sebab saya melihat apa saja dengan mata kepala sendiri.

Tentu, ketika benar-benar bisa naik pesawat, bayangan saya tidak sepenuhnya benar. Benar bahwa ketika burung logam itu persiapan take off, saya menyaksikan keluasan bandara, juga area luas di sekitar bandara, namun ketika benar-benar take off, satu demi satu objek-objek di luar pesawat—perumahan, pabrik, tambak, kepulauan, dan sebagainya—semakin mengecil hingga tampak seperti titik-titik berkilauan, dan akhirnya hilang dari pandangan.

View from plane on Earth surface with wing of an airplane. Sumber: https://www.istockphoto.com

Tatkala menembus angkasa, dengan ketinggian standar pesawat terbang (sekitar 38.000 kaki atau11.582,4 m), dari dalam pesawat ternyata saya tidak melihat apa pun, kecuali pantulan laut biru dan onggokan-onggokan awan laksana buih-buih sabun yang menggerombol di sana-sini. Pesawat yang terbang dengan kecepatan 850 km/jam darat itu melaju di atas laut dalam kesunyian yang panjang. Deru suaranya memecah kesunyian itu, yang masih terdengar dari dalam pesawat. Sesekali saya juga perlu menelan ludah, agar bisingnya mesin pesawat tidak memekakkan telinga.

Jadi, bayangan indah yang pernah ada lenyaplah sudah. Segera saya tersadar akan kenyataan bahwa angkasa adalah angkasa belaka. Ia juga perlu dibaca dan dipahami ketika sudah dekat atau berada di dalamnya—jangan membacanya dari kejauhan, dengan asumsi dan angan-angan sendiri. Untuk membuktikan kenyataan, tak pelak, saya perlu mendekati objek, bukan sebaliknya. Dan di angkasa ini saya temukan keluasan tak terbatas.

Dulu saya membayangkan bahwa saya akan dapat menyaksikan apa saja di permukaan bumi, ternyata ketika saya berada di angkasa saya tidak melihat apa pun juga. Bahkan, saya menemukan diri saya—bersama ratusan penumpang lain—berada dalam kesunyian yang panjang. Andaikata ada keramaian di dalam pesawat, itu hanya keramaian yang amat terbatas, tak terdengar oleh siapa pun di luar pesawat. Saya, juga penumpang lain, hanya penting dalam ruangan sebesar pesawat saja!

Dulu saya pun membayangkan bahwa pesawat terbang mengarungi angkasa dengan mulus—laksana bus yang melaju di jalan tol dengan aspal baru. Ternyata, tatkala cuaca kurang bagus, pesawat pun juga bergoyang—bahkan bergoncang cukup hebat—kadang laksana pedati yang berjalan di atas jalan desa yang bergeronjal. Pada cuaca buruk, bahkan, naik pesawat tak seindah bayangan yang telah mengendap dalam pikiran saya. Lagi, perlu menyaksikan sendiri untuk membuktikan kebenarannya.

Beberapa menit menjelang mendarat, dari pesawat tampak garis-garis pantai yang membentang, juga pulau-pulau kecil (sebagian tampak kecoklatan, sebagian hijau gelap, sebagian keputihan). Tampak pula atap-atap bangunan—entah apa saja: mungkin pabrik, gudang, sekolah, rumah ibadah, atau rumah-rumah penduduk—juga pesawahan, tambak, dan sebagainya. Namun, manusia hanyalah titik-titik yang tidak jelas.

Di mata saya pabrik, gudang, sekolah, rumah ibadah, atau rumah-rumah penduduk—juga pesawahan, tambak, dan sebagainya saja hanya tampak kecil seperti mainan anak-anak. Itu barulah di mata saya. Apa tah lagi di mata Tuhan, alangkah kecilnya semua itu. Benda-benda yang besar dibandingkan ukuran tubuh saya saja sangatlah kecil di mata Tuhan, apa tah lagi saya: alangkah kecilnya saya di mata Tuhan. Saya bukan siapa-siapa, bahkan bukan apa-apa. Nothing!

Dalam posisi inilah saya berada dalam ruang imajinasi. Manusia hidup di bumi tidak tampak dari angkasa—alias terlalu kecil untuk dilihat dengan mata atau alat penglihatan apa pun. Bumi tempat hidup seluruh manusia hanyalah bagian dari tata surya, bagian dari galaksi Bima Sakti, tentu bagian dari gugusan galaksi yang jumlahnya tak terbatas—semua itu hanya makhluk-makhluk kecil di mata Tuhan. Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya.

Meski demikian, dalam imajinasi saya, manusia kecil di atas permukaan bumi dipantau gerak batin, gerak hati, dan gerak fisiknya oleh Tuhan, lewat para malaikat-Nya. Tidak ada satu pun yang meleset dari pantauan—baik dalam kebaikan dan takwa, maupun dalam kejatahan dan kemungkaran. Imajinasi saya tidak mampu menggambarkan bagaimana catatan-catatan paling rinci tentang manusia dibuat oleh para malaikat. Mengapa? Ya karena saya mengginakan perspektif manusia, makhluk yang serba terbatas.

Andaikata saya diberi hak untuk mengambil perspektif para malaikat, pastilah saya akan mengetahui bagaimana memantau setiap detik apa yang berada dalam setiap batin, hati, dan tindakan setiap manusia. Itu sendaianya saja. Itu sama dengan seandainya saya mampu terbang dari kota satu ke kota lain tanpa naik pesawat—dari perpsektif manusia biasa itu tentu amatlah mustahil, namun di mata superhero Superman atau Captain Marvel hal itu sesuatu yang biasa.

Begitulah, tatkala terbang, imajinasi saya berkeliaran ke mana-mana dan tentang apa saja, seakan saya tercerabut dari diri sendiri. Barulah ketika mendarat, saya bisa kembali ke kehidupan normal. Saya menyadari, tempat paling tepat bagi saya bukanlah di langit beserta keluasannya, melainkan di bumi yang setiap hari menjadi tempat berpijak. Tatkala pesawat berhenti dengan sempurna, dan saya keluar pesawat bersama penumpang lain, berjalan mendorong atau menyeret kopor kabin, menyusuri lorong arrival, menuju pintu keluar.

Kembali berada di luar bandara, saya berpapasan dengan banyak manusia berlalu lalang—sebagian tampak terburu untuk mendapatkan taksi atau mobil jemputan, sebagian, sebagian hendak berangkat terbang. Saya hanya berjalan sesantai kaki membawa tubuh, dan benar-benar menikmatinya. Alangkah nikmatnya saya masih memiliki kaki yang kuat untuk berjalan; ini termasuk anugerah yang wajib disyukuri dengan sepenuh hati.

Dari bandara ini saya akan pulang, dan sepanjang perjalanan saya akan membaca apa pun yang saya tangkap dengan panca indera saya. Bagi saya iqra (membaca) harus dilakukan sepanjang hayat, terutama terhadap ayat-ayat tak tertulis—berupa kejadian atau peristiwa di perjalanan, baik ketika melewati jalan tol yang mulus, maupun ketika melewati jalan biasa yang bergelombang di sana-sini.

Dari rumah ke bandara dan kembali lagi ke rumah. Sejauh burung terbang, ia akan terbang pulang ke sarangnya. Jangankan manusia, burung pun menganggap sarang adalah surga yang paling menyamankan dan keluarga adalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.

Gresik, 22 Agustus 2023

 

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

14 thoughts on “Sekelumit Abstraksi Terbang Naik Pesawat”

  1. Daswatia Astuty says:

    Alhamdulillah. Tulisan ini membuat jelas apa yg tadinya gelap.
    Tulisan yg bermakna dalam 🙏🏻🙏🏻🙏🏻sy belajar banyak 👍👍👍

    1. admin says:

      Matur nuwun atas apresiasinya

  2. Bahrus says:

    Makasih, Prof. Emcho Josss…

    1. admin says:

      Sami-sami, mas Ustadz

  3. Susanto says:

    Kalimat: … iqra (membaca) harus dilakukan sepanjang hayat, terutama terhadap ayat-ayat tak tertulis—berupa kejadian atau peristiwa di perjalanan, baik ketika melewati jalan tol yang mulus, maupun ketika melewati jalan biasa yang bergelombang di sana-sini.
    Perlu ditanamkan dalam jiwa. Pencerahan yang menginspirasi.

    1. admin says:

      Siap, PakDe. Tetap berkarya

  4. Astuti says:

    Catatan perjalanan dengan pengalaman terbang ini sangat luas dan memiliki banyak pesan. Amazing. Love it.

    1. admin says:

      Terima kasih banyak, b hajjah

  5. Sri Rahayu says:

    Tetep jadi nomor satu…jago dalam menulis…joss tenan…ueenaak alurnya…
    Bravo Master Emcho…

    1. admin says:

      Makasih banyak, jeng ayu

  6. Mukminin says:

    Luar biasa. Iqror yg benar-benar

    1. admin says:

      Siap, matur nuwun, abah Inin

  7. Lisetyo says:

    Maturnuwun, pak Kho….tulisan ini sangat bermanfaat dan bisa memberikan nasehat agar manusia harus tetap bertahan didalam ‘pesawat’ kehidupan bagaimanapun kondisinya untuk bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Begitulah, ketika hidup manusia itu sudah semakin tinggi tentu saja tidak semulus dan seindah ketika dilihat manusia lainnya yang berada di luar ‘pesawat’ kehidupan tsb.

  8. Abdisita says:

    MasyaAllah tabarakallahu. Terima kasih sharing kisah terbangnya. Alhamdulillah bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *