Mengakrabi Puisi 2.0 Karya Hariyanto

Oleh Much. Khoiri

SEBAGAI salah satu genre karya sastra, puisi memiliki genre-genre kecil sejalan dengan kreativitas penulis (baca: penyair). Dalam sejarahnya, puisi memang selalu berkembang, dan kreativitas penyair—yang kemudian berkembang luas di dalam dunia perpuisian—menjadi tren baru untuk pada gilirannya mengesahkan sebuah genre baru.

Kover buku Merakit Asa Puisi 2.0. Foto: Dok Pribadi

Secara konvensional, dikenallah genre puisi lama semisal syair, mantra, karmina, sonet, pantun, dan sebagainya. Kemudian, dikenallah puisi-puisi baru semisal balada, elegi, epigram, himne, ode, romansa, dan satire. Belakangan ada berkembang genre-genre baru lagi semisal putiba (puisi tiga baris) dan puisi 2.0. Sebuah lompatan perkembangan yang mungkin tidak terbayangkan bentuknya, namun pastilah diprediksikan kemungkinan perkembangannya.

Dalam tulisan ini saya akan membincang buku karya Hariyanto “Merakit Asa Puisi 2.0”. Apa puisi 2.0 itu? Dalam prakatanya Hariyanto menulis, “Puisi 2.0 adalah salah satu jenis puisi baru yang minim kata. Puisi ini bercirikan dalam satu bait tidak boleh lebih dari 20 kata. Puisi ini juga fokus menuliskan tentang satu onyek benda nyata secara detail. Obyek yang sering dilupakan orang, sering menjadi tema puisi 2.0 yang justru menarik.” (hlm. ix).

Selain itu, puisi 2.0 menggambarkan fakta 60% dan rasa 40%. Sebagaimana puisi pada umumnya, puisi 2.0 juga dibangun dengan diksi kuat, bermajas, berirama, dan memperhatikan rima. Artinya, kaidah penulisan berlaku di sini. Masalah ketercapaian kualitas unsur-unsur itu di dalam puisi 2.0, itu bergantung pada siapa penulisnya.

Sebagai tambahan, puisi 2.0 juga memiliki bentuk sederhana, dan memiliki kekuatan khusus di dalamnya, yakni cepat dinikmati berkat pendeknya dan aneka macam temanya. Judul buku ini, menurut penulis, dipilih untuk menggambarkan berbagai harapan yang dirakit menjadi satu untuk selalu diperjuangkan.

Namun, perlu dicatat bahwa pendeknya puisi tidak harus dimaknai mudahnya dalam membuat atau menulisnya. Hariyanto perlu perjuangan yang tidak main-main dalam mewujudkan 200 judul puisi dengan tema berbeda-beda, mulai September 2021 hingga Januari 2022. Jika bukan karena perjuangan, pastilah dia telah menyerah.

Dalam menulis puisi 2.0 penulis terkesan jeli dalam menangkap isu-isu terbaru di sekitarnya. Misalnya, ketika pandemi merajalela, dia menggambarkan bagaimana berpulangnya seorang kawan, dalam judul puisi “Pamit”: Sore kemarin kita masih bercanda/di sela langkah/di kumandang azan maghrib/senyummu/tertinggal sore ini/di balik ambulance/yang bergegas. (hlm. 4).

Sangat menyedihkan suasana puisi tersebut. Pewarta (speaker) sangat terpukul dan tidak percaya bahwa dia akan kehilangan seseorang yang penting baginya. Pagi masih bercanda, sore ternyata sudah meninggal dalam keadaan tersenyum. Meski demikian, ia dibawa ambulan yang terburu-buru—agar tidak diketahui oleh masyarakat kebanyakan. Alangkah “kejamnya” pandemi covid saat itu; ia telah membawa pergi seseorang yang dipentingkan.

Penulis juga menggambarkan bagaimana “Kemarau Panjang” terjadi. Dalam puisi ini penulis menggambarkan kemarau sebagai musim yang sangat menyedihkan, bukan hanya bagi manusia, melainkan juga bagi hewan, tumbuhan, dan makhluk lain. Dia menulis: langit memerah/bumi memanas/mengelupas retak/pucuk-pucuk daun/meranggas/menanti hujan/tak kunjung datang. (hlm. 27).

Pada puisi lain, penulis menggambarkan betapa Sungai Brantas memiliki keterkaitan sejarah yang panjang dengan kerajaan Singosari, Kediri, dan Majapahit. Kenyataannya, pada jaman kerajaan-kerajaan itu, Brantas telah digunakan untuk jalan transportasi air bukan hanya untuk kepentingan militer, melainkan juga kepentingan kehidupan masyarakat. Penulis menorehkan puisi “Sungai Brantas” begini: Jejak airmu/menoreh sejarah/dari singosari/kediri/majapahit/pada air beningmu/ada bayangan/wajah para raja.” (hlm. 27).

Puisi-puisi lain yang menarik untuk dicermati dan dinikmati adalah puisi 2.0 yang berjudul ‘Sepatu”, “Rembulan Pagi”, “Jumat Pagi”, “Jumatan di Masjid Kampung”, dan masih banyak lagi. Ya, ada 200 judul puisi yang bisa dipilih oleh pembaca untuk dinikmati. Meski demikian, tak bisa dimungkiri, kualitas puisi 2.0 dalam buku ini tidaklah sama satu sama lain. Ada yang lebih menonjol dari yang lain.

Pada satu sisi, saya sepakat dengan Dr. Endang Kasupardi M.Pd, dalam Kata Pengantarnya, yang “memandang buku puisi 2.0 pada buku ini sudah bagus. Menjadikan puisi 2.0 sebagai sarana belajar dengan minim kata. Puisi ini… adalah media untuk belajar sehingga penulis kelak kemudian hari menjadi penulis puisi yang mungkin panjang atau puisi yang sebenarnya ia kehendaki.”

Dengan demikian, untuk mereka yang belajar menulis puisi, puisi-puisi karya Hariyanto ini layak dijadikan bahan belajar. Dalam puisi-puisi yang ada Hariyanto telah begitu selektif dalam diksi yang digunakannya. Wawasan yang dimilikinya telah membuatnya memperkuat kandungan makna dalam puisi-puisi yang ada.

Pada sisi lain, penulis telah memberikan tawaran untuk diri sendiri dan orang lain untuk mengasah diri secara lebih baik. Jika latihan terus dilakukan, siapa pun insyaallah akan menemukan keahlian di dalamnya. Pada saatnya dia akan memiliki licentia poetica sendiri, yang berbeda dengan penulis lain. Itulah ikon penting baginya di kemudian hari.*

Gresik, 1 Januari 2023

Judul buku Merakit Asa Puisi 2.0
Penulis Hariyanto
Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan
Tahun Februari 2022
Tebal xv + 105
ISBN 978-623-5631-65-3

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 70 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021). #Menjerat Teror(isme) (Uwais Inspirasi Indonesia, 2022)

18 thoughts on “Mengakrabi Puisi 2.0 Karya Hariyanto”

  1. Hariyanto says:

    Subhanallah Alhamdulillah terimakasih Prof sudah meresensi buku sy yang sederhana ini. Puisi sederhana dengan minim kata bagus untuk.media belajar bagi siapa pun terutama guru siswa … karena itu seperti Endang Kasupardi penggagasnya sangat berharap P.2.0 ini bisa jadi salah media belajar di sekolah. Persis Prof juga setuju “Dr. Endang Kasupardi M.Pd, dalam Kata Pengantarnya, yang “memandang buku puisi 2.0 pada buku ini sudah bagus. Menjadikan puisi 2.0 sebagai sarana belajar dengan minim kata. Puisi ini… adalah media untuk belajar sehingga penulis kelak kemudian hari menjadi penulis puisi yang mungkin panjang atau puisi yang sebenarnya ia kehendaki.”
    Semoga buku ini bermanfaat aamiin.

    1. admin says:

      Tanggapan yang menarik, Pak Har. Terima kasih atas tambahannya

  2. Mukminin says:

    Resensi yg Bagus. Mksih Bah.

    1. KONI KUSNADI says:

      Pencerahan yang insfirative buat saya. Terimakasih banyak, Master. Semoga menjadi amal baik…aamiinn yra🤲🤲🤲🤲
      🙏🙏🙏

    2. admin says:

      Terima kasih, abah Inin

  3. WYDA ASMANINGAJU says:

    Tulisan master selalu memantik untuk selalu belajar dan belajar. Terima kasih ilmunya

    1. admin says:

      Terima kasih, bu Ayu

  4. Daswatia Astuty says:

    Resensi yg bagus dan menggerakkan

    1. admin says:

      Makasih banyak atas apresiasinya

  5. Roni Ramlan says:

    Mantap master. Mencerahkan.

    1. admin says:

      Mas Roni/Dewar, makasih banyak ya

  6. Supardi Harun says:

    Resensi buku yang komplit, berbobot, serasa bisa memaknai Buku itu. Mantap pak

    1. admin says:

      Matur nuwun sanget, Pak Pardi

  7. Abdisita says:

    Terima kasih ilmunya. Ulasan pak Emcho mantap.

    1. admin says:

      Sami2, Bu Sita

  8. Sumintarsih says:

    Karya yang luar biasa. Colekan peresensi sangat mengena.

    1. admin says:

      Matur nuwun Bu Mien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *