Mempublikasikan Tulisan Ibarat Memasarkan Mamin di Mal

Oleh Much. Khoiri

SEKALI tempo, taruhlah sepekan sekali, jalan-jalanlah ke mal di kota Anda. Amati rumah makan atau outlet makanan dan minuman (mamin) di lantai tempat Anda duduk. Apakah semua outlet selalu ramai pada setiap saat dan di semua outlet?

Bisa ditebak, tidak semua rumah makan atau outlet mamin memperoleh kunjungan sama. Ada rumah makan atau outlet yang laris manis, ada pula yang tidak begitu laku. Itu berlaku hukum supply and demand, antara persediaan dan tuntutan. Outlet mamin akan ramai jika mamin yang ada dibutuhkan (demand) pengunjung.

Wajah weblog saya ‘Literasi, Sastra dan Ruang Ketiga’. Foto: Dok pribadi

Namun, itu saja tidak cukup. Demand pengunjung meningkat karena mamin itu diposisikan di mal, sebuah tempat prestisius. Dalam komodifikasi budaya, mal itu dunia mimpi atau dunia fantasi. Jika kopi 5 ribuan ditaruh di outlet mal, maka harganya bisa naik menjadi 25 ribuan. Ada prestise tertentu jika orang makan dan minum mamin di dalam mal—yang tidak diperoleh di luar mal. Namun, bagi yang tidak punya uang untuk membelinya, dia justru menjauh dan tidak berani membelinya.

Analog dengan itu, mempublikasikan tulisan di blog atau grup WA ibarat memasarkan mamin di mal. Tulisan di blog atau grup WA itu merupakan sesuatu yang mahal, yang didisplay di outlet karya yang elit. Tulisan yang sudah di-share di blog atau grup WA mengalami naik kelas, sebagaimana kopi yang memahal seiring dengan meningkatnya status ekosistem pasar pemikiran.

Itulah yang menyebabkan orang menjadi enggan untuk menengoknya, meski ada juga yang fanatik dan suka membacanya. Meski demikian, jika dibandingkan, lebih banyak manakah antara yang membaca dan yang tidak membaca? Bisa ditebak, lebih banyak yang tidak membacanya.

Logikanya sederhana. Orang yang jalan-jalan di mal tidak semuanya mampir ke outlet mamin untuk membelinya. Itu sama dengan situasi ketika tulisan dipasang di blog atau grup WA, belum tentu dibaca orang banyak, sebab mereka mungkin hanya ingin menjelajah secara kilat, atau malah tidak membuka tulisan yang ada—lebih tertarik untuk pesan-pesan yang lain.

Dengan demikian, ada tiga implikasi penting yang bisa dicatat. Pertama, kita tidak perlu terlalu sedih ketika mendapati bahwa tulisan kita kurang dibaca oleh pembaca umum blog atau anggota grup WA. Masih ada pembaca blog atau grup WA lain yang barangkali tertarik membacanya, sebagaimana pengunjung mal lain yang mungkin juga tertarik membeli mamin yang ditawarkan.

Kedua, kita justru menemukan sesama penulis yang sesungguhnya atau calon penulis yang sungguh-sungguh. Sesungguhnya penulis yang baik adalah juga pembaca yang baik. Merekalah pembaca yang diandalkan, yang akan memberikan tanggapan, kritik dan saran yang kita butuhkan untuk memperbaiki tulisan kita. Jangan bersedih jika hanya dilewati oleh pembaca lainnya. Pembaca fanatiklah yang bisa kita harapkan untuk membuat kita maju dan lebih maju lagi.

Ketiga,  dibaca pembaca blog atau grup WA ataukah tidak, tulisan yang kita pajang di tempat prestisius akan menjadi tabungan tulisan bagi buku kita. Setidaknya, ketika menulis, dengan niat dipasang di blog atau grup WA, kita menulisnya dengan serius dan tidak sembarangan alias asal jadi. Mengapa demikian? Kita menulis dengan niat untuk menabung tulisan untuk buku. Maka, mari tetap tersenyum saat melahirkan tulisan untuk blog atau grup WA.

Yang lebih penting lagi adalah kesadaran bahwa tulisan yang kita hasilkan—entah karya fiksi entah nonfiksi—memang buah pikir kita yang bermakna dan memiliki nilai. Ia akan menemukan takdir terbaiknya lewat media mana pun juga. Pembaca yang baik akan membaca buku yang berkualitas, dan penulis yang baik akan membaca buku yang berkualitas untuk menghasilkan buku baru yang berkualitas pula.*

Gresik, 3 Januari 2022

Baca juga:

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 70 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021). #Menjerat Teror(isme) (Uwais Inspirasi Indonesia, 2022)

22 thoughts on “Mempublikasikan Tulisan Ibarat Memasarkan Mamin di Mal”

  1. Abdisita says:

    Selalu men-support para penulis. Terima kasih pak Emcho. Ya Tulisan yang kita tulis akan menemukan takdir pembacanya. Yang penting berikhitiar seoptimal mungkin & berniat menebar manfaat untuk meraih ridho–Nya semata. Soal laris tidaknya. Rezeki tulisan kita. Biar kita serahkan kepada Nya saja.

    1. admin says:

      Terima kasih banyak, Bu Sita. Tanggapan yang cakep

  2. Betul sekali Prof. Ibarat pedagang keliling dari rumah ke rumah belum tentu ada yang membeli dagangannya. Rezeki manusia sudah diatur.

    1. admin says:

      Sepakat Omjay, terima kasih telah berkunjung dan BW

  3. Daswatia Astuty says:

    Terima kasih Master Emcho. Selalu menyemangati kami. Tetap menulis dan biarlah tulisan itu menemukan takdirnya sendiri. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    1. admin says:

      Terima kasih atas apresiasinya

  4. Hariyanto says:

    Tulisan di blog adalah tabungan untuk menulis buku…..kalimat ini sangat menarik untuk dipraktikkan. Terkmakasih Psk….salam

    1. admin says:

      Perlu dipraktikkan, Pak Har. Jika kita praktikkan, kita akan panen buku

  5. Mukminin says:

    Terima kasih pencerahannya Bah.

    1. admin says:

      sami2, Abah Inin

  6. Astuti says:

    “Kita menulis dengan niat untuk menabung tulisan untuk buku. Maka, mari tetap tersenyum saat melahirkan tulisan untuk blog atau grup WA.”
    Siap grak!

    1. admin says:

      Makasihm bu hajjah. Ayo kita praktikkan

  7. Astuti says:

    “Kita menulis dengan niat untuk menabung tulisan untuk buku. Maka, mari tetap tersenyum saat melahirkan tulisan untuk blog atau grup WA.”
    Siap grak!

    1. admin says:

      Monggo kita jalani

  8. Wigung says:

    Sederhana sarat makna.
    Merangkai kata per-hari dan jadi lembaran kata kata. Ok.trims. dopping _nya Pak

    1. admin says:

      Mari terus saling menguatkan

  9. Azizah Herawati says:

    Terimakasih, Pak Emcho… selalu jadi kompor untuk menulis dan menulis. Bismillah bisa kena virus keren bersama njenengan dan para penulis handal lainnya

    1. admin says:

      Tugas saya memang menjadi kompos gas

  10. WYDA ASMANINGAJU says:

    Terima kasih master selalu memantik semangat menulis.

    1. admin says:

      Okay, Bu Ayu. Saling menguatkan

  11. Pak Guru Untung says:

    Mantab Ketua, terimakasih sudah berbagi tulisan yang bermanfaat. Semoga saya juga bisa menulis seperti panjenengan.

    1. admin says:

      Siap, terima kasih, pak guru Untung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *