Memasak Sayur Lodeh di Minggu Pagi

Oleh Much. Khoiri

SIARAN ulang skuad Argentina vs Australia masih berlangsung seru pagi ini, ketika saya tiba-tiba kangen makan dengan sayur lodeh pedas. Saya tanya anak perempuan, apakah ada bahan-bahan lodeh di dalam kulkas.

Dia mengiyakan. “Tahu, tempe, cabe hijau, cabe merah, bawang putih-merah. Terong juga ada. Yang tidak ada kacang tolo. Sebentar lagi saya belikan.” Dia mengeluarkan semuanya dan menaruhnya di meja. Terong dikembalikan lagi.

Sayur lodeh tahu-tempe a-la saya sendiri. Foto: Dok pribadi

Dia menyebut bahan-bahan itu untuk memastikan saya menyetujuinya, sebab semua itu favorit saya kalau saya memasak lodeh. Terong itu alternatif. Kadang saya gabungkan, kadang tidak. Pagi ini saya tidak ingin terong, jadi cukup tahu, tempe, cabe hijau, cabe merah, santan saset. Bawah merah-putih, jelas, itu bumbunya, selain ada garam-gula dan tomat.

Sambil melirik dan menyimak riuh sorak sorai penonton bola, saya mengiris tahu dan tempe, lalu merajang miring cabe merah dan hijau. Tomat saya potong menjadi beberapa bagian. Kali ini saya tidak ingin menguleg bumbu sayur. Bisa berisik! Sebab itu, bawang merah-putih juga saya iris kecil. Nah, bahan sudah siap. Tempe-tahu di satu lepekan, demikian pun cabe merah-putih dan bawang merah-putih. Santan saset saya gunting ujungnya untuk membukanya. Air juga saya siapkan di dekat kompor.

Baiklah, selanjutnya saya pasang wajan ke kompor, dan saya beri mentega secukupnya. Saya gangsa (oseng) bawang merah-putih, cabe merah-putih, bawang bombay hingga harum baunya. Lalu, saya masukkan air secukupnya. Saya tambahkan garam dua sendok teh, dan gula dengan ukuran sama. Kemudian saya aduk agar bumbu merata. Hmmm, mulai harum baunya.

Ketika air sudah cukup panas, saya masukkan tahu dan tempe yang sudah teriris. Irisan tomat saya susulkan setelah itu. Dan beberapa saat kemudian, saya masukkan santan saset. Lalu, saya aduk hingga merata. Pada saat demikian, sayur lodeh saya sudah tampak menawan dan mengundang goyang lidah. Kebiasaan baru terjadi: Memotretnya!

Sekarang, saya tinggal menunggu mendidihnya sayur lodeh saya di kompor. Perut sudah dangdutan. Dari pada menganggur, sambil menyimak bola, saya mencuci piring dan kawan-kawannya. Lumayan untuk menggerakkan tangan, masak hanya untuk mengetik saja? Sekali tempo tangan digunakan untuk melakukan pekerjaan dapur.

Di tengah mencuci piring, saya tengok sayur sudah menunjukkan gelembung-gelembung kecil. Itu pertanda panasnya cukup merata. Warna santannya juga sudah mulai berubah. Maka, saya ambil sendok untuk incip rasanya, apakah asin dan sedapnga sudah pas. “Mantap, sudah superjoss,” teriak saya kemudian.

Alhamdulillah, akhirnya kompor saya matikan. Kerinduan saya memasak terbayar sudah, dan sebentar lagi kerinduan lidah saya pada sayur lodeh juga terlunasi. Kerinduan menjadi anak kost, sesuatu yang selalu saya lakukan kalau saya rindu makanan a-la Madiun. Maka, segera saya pindahkan sayur lodeh dari wajan ke pan sayur, dan menaruhnya di meja makan. Siap untuk sarapan! Taraaaaa!**

Driyorejo, 4/12/2022

Baca juga:

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

16 thoughts on “Memasak Sayur Lodeh di Minggu Pagi”

  1. Sulastri says:

    Seneng membacanya seakan akan ikut memasak dan ingin mencicipi nya , Pak Khoiri hebat πŸ‘πŸ‘ terimakasih

    1. admin says:

      Terima kasih banyak, Bu. Itu buahnya orang pernah indekost.

  2. Wiwiet says:

    Jadi lapeeer nih pak.

    1. admin says:

      Berarti pesan memasaknya berhasil

  3. Restu Utami says:

    Waaahhh…mantap, masakan lodeh itu, Pak.
    Rupanya, tidak hanya jago menulis memasak pun pintar….πŸ‘πŸ‘

    Bolehkah saya menirunya ?
    Kok tertarik…πŸ˜€πŸ™

    1. admin says:

      Monggo dicoba, Bu Restu. Lodeh ala saya

  4. Nursaidawaty says:

    Masya Allah…ternyata pak Khoiri pintar masak, habis baca jadi lapar deh…

    1. admin says:

      Semua hrs bisa memasak, agar sama2 merasakan bgm masakan disiapkan

  5. Wijiantono says:

    Biar lebih mengundang selera makanya, sayur lodeh ,ikan pindang yang kecil-kecil digoreng kering dan jangan lupa untuk krupuknya supaya tambah ramai.Anak-anak kos jaman dulu rata-rata jago masak.Beda dengan anak-anak kos jaman now.Saya juga mantan anak kosan Master Moch.Choiri

    1. admin says:

      Pak Anton pasti juga jago memasak ya

  6. Abdisita says:

    Masya Allah. Hidup jadi indah. Di sela-sela memantaskan diri menjadi hamba yang dicintai-Nya, menulis, menonton bola sambil sekali-sekali memasak masakan favorit. Terima kasih inspirasi nya pak Emcho

    1. admin says:

      Mengisi waktu agar lebih bermanfaat, Bu Sita

  7. Pymnomill says:

    levitra 10mg compatible You also want to make sure that the labels on the CBD products show that they have undergone third party lab testing

  8. NtCaVq says:

    In their hearts, their masters are like gods buy cialis online usa

  9. Disbtn says:

    fenofibrate pills order tricor 160mg online cheap tricor 160mg sale

  10. Dfcjda says:

    pill zaditor doxepin for sale order tofranil online cheap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *