Empat Tempat untuk Bekerja Menulis di Rumah

Oleh Much. Khoiri

DI RUMAH saya punya empat tempat menulis: di teras, di ruang tamu, di perpustakaan pribadi, dan di ruang konten-kreatif. Di dua tempat pertama tidak ada catatan-catatan kertas di dinding, tetapi di dua tempat kedua ada dan bahkan wajib adanya.

Di teras saya mengetik di pagi hari, setelah subuh atau jogging, dengan udara yang sejuk membantu saya melancarkan menarinya jari tangan. Sesekali melihat tetanaman di teras yang hijau—mulai tetanaman menggantung hingga tetanaman berpot-pot, termasuk tanaman hias, saya menuangkan gagasan kreatif yang biasa telah menggoda sejak beberapa saat seblumnya.

Aneka catatan yang tertempel di dinding di depan meja tulis. Foto: Dok pribadi

Itu biasanya terjadi di pagi hari di mana saya tidak harus bergegas pergi bekerja di kampus kesayangan. Saya menikmatinya hingga matahari menanjak naik hingga menimbulkan hawa sumuk. Saya tidak perlu catatan tertentu, sebab saya menulis kreatif yang lebih banyak mengandalkan kerja otak kanan: Di bawah sadar tersimpan memori tak terhingga dan siap hadir untuk dieksekusi selagi ada pemicu.

Tempat kedua, ruang tamu sisi barat. Ruang tamu kami sekitar 3×6 meter. Selain ada seperangkat sofa-meja, ada rak buku tanam di dinding—tempat buku-buku favorit yang bisa saya baca sewaktu-waktu, dan ada televisi yang terpasang di bufet. Ini tempat menulis dalam situasi agak santai, setidaknya jadi tempat menyiapkan rancangan menulis. Ketika fisik capek, saya browsing bahan atau merancang outline, kerap saya lakukan di ruang tamu. Semasa piala dunia ini, saya banyak bekerja persiapan menulis di sini.

Bagaimana bila ada tamu ketika sedang membuka laptop? Tidak masalah. Laptop ada di meja sisi barat ruang tamu, sangat dekat dengat televisi; sementara, pintu rumah di sisi timur. Jadi, jika ada tamu, saya cukup menyetel “sleep” laptop saya dan bisa menyambut tamu di seperangkat meja-sofa sisi timur ruang tamu. Di situlah tamu saya terima secukupnya.

Tempat selanjutnya adalah perpustakaan, dengan ukuran sekitar 4×6 meter. Di ujung selatan ada pintu menuju garasi mobil dan ujung utara ada meja kerja, dan dikelilingi dinding yang penuh rak buku—ada tiga rak besi, dua rak kayu, dan rak-rak plat lekat di dinding. Tentu, tidak ada space yang kosong dari buku. Entah berapa buku koleksi buku saya, namun pastilah ribuan jumlahnya.

Di perpustakaan inilah saya bekerja menulis hampir setiap hari untuk waktu yang cukup lama. Jika saya pernah bilang bahwa saya menulis setiap pukul 3 pagi, ya di sinilah tempatnya. Inilah laboratorium kreatif saya, di mana saya membaca aneka sumber referensi, membuat catatan-catatan, merenungkan, merancang tulisan, dan mengeksekusinya. Di situ pula saya mendidik diri secara keras menjadi penulis selama ini.

Jangan ditanya soal catatan. Di dinding-dinding laboratorium itu tergantung aneka catatan, entah catatan hasil bacaan yang amat penting, catatan calon tulisan, catatan konsep, daftar topik untuk ditulis, daftar posting tulisan di website, daftar posting youtube, rencana buku-buku yang segera akan ditulis, agenda kreatif saya, dan sebagainya. Belum lagi kalau sedang menulis, ternyata muncul gagasan baru, maka catatan di dinding makin mengular.

Terakhir, ruang konten-kreatif. Di ruangan 3×4 meter ini saya biasanya membuat konten-kreatif, terutama untuk youtube dan Instagram. (Rencananya, saya akan menambah konten tik tok dan short youtube.) Di tempat itu, saya sudah menyiapkan alat perekam. Namun, yang lebih penting, ada tiga meja kecil untuk menunjang suasana menulis saya, sebagai alternatif pengganti bekerja di perpustakaan. Yang membuat nyaman, ada hembusan udara segar dari lantai dua.

Saya juga menjadikan tempat terakhir ini favorit. Saya juga memasang catatan apa saja di dinding tepat di depan meja tulis. Jenis catatannya hampir sama dengan catatan di meja perpustakaan. Hal ini sangat memudahkan saya untuk memicu inspirasi dalam diri saya. Bukan itu saja, bahkan dalam mengeksekusi tulisan, saya seakan didorong oleh kekuatan supra natural dan dapat menyelesaikannya dengan sangat cepat. Khusus untuk menulis karya kreatif semisal puisi dan cerpen, kecepatannya bergantung mood atau suasana hati/pikiran.

Nah, sekarang mana tempat yang paling saya suka? Itu sesuai situasi dan mood saya saat menulis. Yang paling sering, saya memang menulis di meja perpustakaan dan ruang konten-kreatif, tetapi saya juga tak jarang menggunakan sisi barat ruang tamu dan teras sisi timur. Jadi, bisa Anda bayangkan, bagaimana saya mengatasi kebosanan dan kejudekan dalam menulis.*

Gresik, 12 Desember 2022

Baca juga:

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 70 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021). #Menjerat Teror(isme) (Uwais Inspirasi Indonesia, 2022)

28 thoughts on “Empat Tempat untuk Bekerja Menulis di Rumah”

  1. Hariyanto says:

    Subhanallah, ini baru namanya pilihan profesi yang diniati…..samlai tempatnya sudah on ready 4 ….. terimakasih sudah mengisnpirasi Abah Khoiri Kalau saya sementara di ruang tamu saja dengan resiko tumpukan buku-buku baik referensi maupun yang untuk “ngemil.” baca. …termasuk tempat eksekusi dengan latop. Jika konten YT short saya berusaha lewat HP saja dengan tempat duduk yang nyaman….senyaman mungkin 😀

    1. admin says:

      Keputusan menekuni dunia menulis membawa konsekwensi untu menyiapkan fasilitas pendukung secukupnya

  2. Imran Sinong says:

    Lokasi memicu kreativitas

    1. admin says:

      Betul sekali, Pak Kepala. Jika lokasi tdk kondusif, akan membuntu kreativitas

  3. Daeng ardi says:

    Makasih prof.. sangat mengesankan dan menginspirasi.. bacaan wajib saya, dipagi hari sambil ngopi di teras rumah,

    1. admin says:

      Selamat terinspirasi dan menulis lagi

  4. Daswatia Astuty says:

    Saya tahu Semua tempat yg diceritakan. Sy pernah mengunjungi rumah pak Khoiri dan menghitung semua buku karyanya yg ada di perpustakaannya
    Kondisi aslinya lebih menyenangkan dr yg dia gambarkan. Dua rumah digabung jd satu hanya menyisiikan bagian kecil utk kamar tidur, dapur dan ruang tamu. Selebihnya utk mendukung aktifitas menulis. Termasuk orNg yg hidup di dalamnypun memberi dukungan utk menulis. Jangan harap bisa mengganggunya jk beliau sementara menulis, kecuali jk ingin menghadapi klgnya.

    1. admin says:

      Bahagia sekali telah dikunjungi oleh saudara dari jauh, Makassar.

  5. Budiyanti says:

    Woh keren. Banyak tempat untuk menulis. Sangat menginspirasi. Semua tempat yang menarik. Terima kasih sharingnya Pak Khoiri. Salam sehat

    1. admin says:

      Monggo, Bu Yanti, silakan membuat tempat baru ungtuk menulis

  6. Astuti says:

    Kalau dulu saya hanya mengetahui dari bisik bisik tetangga di Kompasiana tahun 2010 an. Dan sekarang saya bisa menyimak dari penulisnya langsung. Tak heran bila hasil tulisannya pun cetar membahana. Semoga saya tetap semangat menulis di tempat yang saya ciptakan agar betah menulis. Terima kasih Pak Haji.

    1. admin says:

      Tanggapan teman2 penulis malah menjadi pemantik untuk hadirnya isnpirasi menulis

  7. Susanto says:

    Idealnya seperti itu. Jika tidak ada fasilitias seperti dimiliki penulis, setidaknya ada sebuah tempat yang menjadi tempat untuk menulis: meja kerja, he he he.

    1. admin says:

      Sepakat, Pakde. Bahkan, jika tdk ada meja, minimal punya HP atau kertas untuk mengabadikan pikiran kita

  8. Sri Rejeki says:

    Masya Allah… man jadda wa jadda…
    Pak Emcho benar-benar patut dicontoh dalam berkarya, dalam menulis begitu totalitas. Usaha tak mengkhianati hasil…
    Baarakallah selalu bapak guruku…

    1. admin says:

      Totaliotas sangat penting dalam mengerkjakan sesuatu. Soal hasilnya, itu urusan Allah

  9. Mukminin says:

    Alhamdulilah luar biasa Abah Khoiri, saya sudah memasuki tempat-tempat itu. Sangat menginspirasi. Matur nuwun gizi Literasi semakin lengkap dari Abah.

    1. admin says:

      Alhamdulillah, Abah Inin sudah silaturahmi ke rumah

  10. Abdisita says:

    Masya Allah. Pak Emcho betul-betul totalitas mencintai literasi. Sehingga semua sudut rumahnya bisa menjadi habitat nya. Tempat yang nyaman untuk melahirkan tulisannya. Terima kasih inspirasinya

    1. admin says:

      Sebagai penulis, penting kiranya utk total dalam mencintai literasi

  11. Cahyati says:

    Sangat beruntung memiliki rumah yang luas dan berbagian. Bisa digunakan apa saja sesuai selera pemilik nya. Semangat berkreasi prof.

    1. admin says:

      Alhamdulillah, barokallah

  12. Restu Utami says:

    Hihihihi…mau komentar apa, ya ?
    Tidak berani, aahh.

    Saya selalu menunggu tulisan-tulisan Master.
    Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
    Sehat selalu untuk Master.

    1. admin says:

      Terima kasih banyak, Bu

  13. Yanti says:

    Matur nuwon Abah Khoiri.. Sangat menginspirasi. Karena penting sekali mengembalikan mood dengan suasana baru.

    1. admin says:

      Selamat mencoba nggih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *