‘Membaca’ Sebagai Penulis (1)

Oleh Much. Khoiri

SAYA menggunakan kata ‘membaca’ (dalam tanda kutip) dengan maksud untuk menyepadankannya dengan kata ‘Iqra’ dalam QS Al-Alaq. Ia mengandung makna bukan hanya membaca teks tertulis, melainkan juga membaca ayat-ayat tak tertulis secara luas. Membacanya pun ‘atas nama Tuhanmu’.

Cakupan membaca saja sedemikian luas ketika ia diproyeksikan untuk memaknai ‘lebih dari sekadar teks tulis’. Ditambah lagi ‘atas nama Tuhanmu’, ini makin menjadi tantangan dan sekaligus jadi peringatan. Mengapa? Mungkin saja, membaca telah dilakukan sebanyak-banyaknya, namun bukan atas nama Tuhan. Lebih konyol lagi bagi mereka yang membacanya sedikit, tanpa menyertakan Tuhan pula. Untuk yang belum suka membaca, semoga segera mendapatkan hidayah!

Membaca buku gratis di taman. Membaca teks, membaca alam. Foto: www.vlix.id

Yang ideal, tentu saja, kita mengamalkan perintah iqra (membaca luas atas nama Tuhan), sebagaimana terkandung dalam QS Al-Alaq itu. Iqra itu kewajiban, bukan anjuran, bukan hanya berita. Itu kalimat perintah! Hanya saja, kebanyakan kita—ya kita semua masyarakat Indonesia—begitu beratnya mengamalkan ibadah membaca ini. Meski tahu itu perintah Allah, kebanyakan kita abai terhadapnya. Apalagi iqra atas nama Tuhan, di dalamnya pasti dalam dan untuk kebaikan!

Sekarang, mengapa kita perlu membaca sebagai penulis? Penulis itu berbeda dengan bukan penulis dalam membaca sesuatu. Ini bukan arogansi, tetapi senyatanya demikian. Ingat kata sastrawan kenamaan Budi Darma: “Begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak dapat diambil alih orang lain. Sebaliknya, kalau dekan, camat, atau mantri polisi mati, dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikannya.”

Dalam praktiknya, secara fundamental, penulis membaca karena ada tujuan untuk mengumpulkan bahan bagi tulisannya. Artinya, ketika membaca—terlebih atas nama Tuhan—, dia mencari bahan apa pun yang menarik untuk mendukung apa yang akan ditulisnya. Ibarat rajawali, dia terbang bulan sekadar melayang mengarungi angkasa, melainkan juga mengintai mangsanya di kejauhan di bawah sana.

Itulah mengapa program-program pertukaran ahli atau residensi di negeri maju kerap menyaratkan peserta untuk mampu menulis, di samping kemampuan-kemampuan utama sesuai bidang keahlian. Panitia tidak mungkin mau merugi. Menghadirkan mereka harus mendapatkan imbalan, setidaknya ilmu pengetahuan dan wawasan yang ditunjukkan suatu saat akan menjadi tulisan-tulisan.

Terlebih, program residensi penulis, sebagaimana International Writing Program di University of Iowa (USA) yang saya ikuti tahun 1993, mengundang penulis dari berbagai belahan dunia. Itu sudah pasti: Semua peserta adalah para penulis yang mewakili negaranya. Menghadirkan 30 penulis saja, misalnya, akan memungkinkan terabadikannya potensi-potensi menarik dari negara penyelenggara ke dalam buku atau karya budaya lain. Jika bukan penulis, kemungkinan jadi buku sangatlah kecil.

Oleh sebab itu, mulai sekarang marilah membaca sebagai penulis. Membaca apa saja, baik teks tertulis maupun “teks-teks” tak tertulis—yang bertebaran di depan mata sehari-sehari. Mulai membuka mata di pagi hari hingga memejamkan mata untuk istirahat terhampar teks-teks tak tertulis itu. Persoalannya, apakah kepekaan kita mampu menangkapnya sebagai bahan bacaan atau tidak.

Membaca sebagai penulis itu menuntun kita untuk menempuh 5 (lima) tahap dalam setiap pembacaan terhadap teks tulis dan nontulis: (1) Membaca & mengamati, (2) Mencatat/merekam, (3) Bertanya, (4) Memilih fokus, dan (5) Rancang tulisan. Awal-awalnya tahap ini agak ribet diterapkan. Namun, ketika sudah terbiasa, semua terasa enteng dan ketagihan.

Misalnya ada kemacetan besar di pertigaan. Kita melihat dan mengamati seberapa parah kemacetan itu, dan apa yang membuat macet: puluhan sepeda motor dari tiga arah masing-masing menyelonong. Maka, kita mencatat dalam pikiran atau memotret dengan ponsel. Kita juga bertanya-tanya mengapa kemacetan bisa terjadi. Kita mencoba mencari tahu, bisa dengan mengamati, bisa juga bertanya pengendara kiri-kanan. Lalu, selepas dari kemacetan, kita melanjutkan perjalanan sambil memilah-memilih fokus yang akan dibahas. Kemudian, kita akan mampu merancang tulisan.

Dengan kata lain, ketika terjadi kemacetan di pertigaan, kita sebagai penulis tidak mungkin hanya lewat begitu saja tanpa membaca sesuatu di sana. Terjadi proses pengamatan atau pembacaan serta perekaman terhadapnya, sehingga ujung-ujungnya amat mungkin menghasilkan bahan untuk tulisan. Adapun itu nanti akan menjadi tulisan apa, kepekaan dan kejelian kita berperan penting.

Jadi, tunggu apa lagi, mari wajibkan diri untuk membaca (atas nama Tuhan) sebagai penulis. Dengan begitu, kita semakin memperkuat komitmen diri untuk membaca dengan baik, dan menulis karya guna menebarkan jariyah kebaikan kepada sesama manusia.*

Gresik, 24 November 2022 

Baca juga:

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

27 thoughts on “‘Membaca’ Sebagai Penulis (1)”

  1. Astuti says:

    5 tahapan itu harus jadi pemicu para penulis supaya bisa naik kelas
    http://www.srisugiastutipln.comPak

    1. admin says:

      Begitulah, Bu hajjah. Itu sarana untuk naik kelas, dari penulis biasa ke penulis setingkat lebih baik

  2. Daswatia Astutu says:

    Tulisan yg menggerakkan. Terima kasih pak Khoiri 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    1. admin says:

      Terima kasih, Mbakyu. Sehat selalu. Semoga.

  3. Lina says:

    Sarapan pagi yang lezat Master.
    Maturnuwun

    1. admin says:

      Terima kasih, B Lina. Mari sarapan tulisan

  4. Budiyanti says:

    Terima kasih pencerahan pagi Pak Emco. Sangat bermanfaat. Membaca ( atas nama Tuhan) semoga bisa saya amalkan.

    1. admin says:

      Semoga segera bisamengamalkannya, Bu Yanti. Sehat selalu

  5. Roni Bani says:

    selamat pagi pak Khoir, mari terus “membaca”

    1. admin says:

      Ajakan yang sangat menarik dan patut diikuti.

  6. Dwi Rukmi says:

    Mantap…!

    1. admin says:

      Terima kasih, Bu Dwi Rukmi. Salam kreatif

  7. Membaca tidak asal membaca, tetapi harus diniatkan atas nama Tuhan. Artinya yang dibaca dan tujuan membaca tidak lepas dari kebaikan. Terima kasih untuk inspirasinya pak Emcho.

    1. admin says:

      Saling menginspirasi ya, Pak Agung. Terima kasih

  8. Susanto says:

    Sangat menginspirasi. Membiasakan membaca teks dan konteks akan memperkaya pengetahuan diri dan jika ditulis dapat dinikmati oleh orang lain.

    1. admin says:

      PakDe Sus, membaca teks dan konteks itu penting.

  9. Ngainun Naim says:

    Sepakat. Membaca itu AMUNISI bagi penulis. Tanpa membaca, tulisan serasa tanpa energi plus kurang gizi

    1. admin says:

      Betul sekali, Mas prof. Membaca jadi wajib adanya

  10. membacalah setiap hari lalu perhatikan apa yang terjadi pada diri anda.

    1. Much Khoiri says:

      Semboyan yang menggerakkan

  11. Wijiantono says:

    Senang rasanya membaca dengan bahasa dan tulisan Master yang mudah dicerna semoga dengan karya-karyanya dapat menjadi ladang pahala

    1. Much Khoiri says:

      Menulis untuk ladang jariyah

  12. Enlarry says:

    Xifaxan rifaximin is an antibiotic indicated for the treatment of patients 12 years of age and older with travelers diarrhea caused by noninvasive strains of Escherichia coli E proscar no script cardura fosamax prospect It means companies have to choose carefully which to attend

  13. Eqedcw says:

    cost tricor 160mg fenofibrate cost tricor cheap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *