Menulislah Selama Status Menulismu Masih Ada

Oleh Much. Khoiri

MENULISLAH selama status menulismu masih ada! Pesan provokatif ini selalu didengungkan Dulgemuk kepada dirinya sendiri, tidak perlu sekeras ungkapan Pak Blantik: “Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku.” (2017). Dulgemuk sadar, dia cukup menggunakan slogan lebih bersahabat saja.

Menulis di depan rak buku agar tetap bersemangat. Foto: Dok Pribadi

Dalam hal ini, jangan remehkan keteguhan Dulgemuk. Slogan “Menulislah selama status menulismu masih ada” itu sudah terasa keras dan tegas baginya. Mengapa? Status penulis akan melekat pada seseorang selama dia masih menulis. Artinya, jika penulis tidak menulis atau berhenti menulis, itu berarti bahwa statusnya sebagai penulis otomatis lenyap tak bermakna.

…jika penulis tidak menulis atau berhentu menulis, itu berarti bahwa statusnya sebagai penulis otomatis lenyap tak bermakna.

Boleh saja orang mengaku bahwa dia pernah menulis sekian buku atau sekian ratus tulisan, namun jika dia berhenti menulis selama beberapa waktu, ia termasuk bukan penulis lagi dalam rentang waktu itu. Dia seperti pensiunan penulis sementara waktu. Ibarat petinju, dia sudah menanggalkan sarung tinjunya; ibarat pemain bola, dia sudah menggantung sepatunya. Dia tidak berkutat dengan dunia tulis-menulis, bahkan seakan telah melupakan “kekasih”-nya di masa lampau.

Masak orang yang tidak lagi menulis, masih tetap mendapat julukan penulis? Agaknya itu tidak adil, dan malah mengada-ada. Sebab, predikat akan melekati seseorang ketika dia menyandang suatu status atau selama dia mengerjakan sesuatu. Nah, ketika dia melepaskan diri dari semua itu, maka tamatlah riwayatnya, gugurlah predikatnya. Demikian pula, jika dia tidak menulis, masak masih harus dipanggil sebagai penulis?

Karena itu, untuk mereka yang telah vakum lama, dan ingin kembali aktif menulis, itu hakikatnya mereka kembali dunia semula yang pernah mereka tekuni. Dengan kata lain, mereka kembali ke habitat asli mereka, tempat kreatif yang paling menyamankan. Selama vakum menulis, otomatis mereka tidak tepat dikatakan sebagai penulis. Penulis kok tidak menulis, kan aneh saja, bukan? Jadi, terima saja predikat sesuai dengan situasi-kondisi kekinian.

Begitulah, Pak Blantik selalu mengulang-ulang penegasannya kepada berbagai khalayak penulis: Menulis yang paling disukai dan paling dikuasai.

Tentu, Dulgemuk menjaga marwahnya untuk tetap menyandang predikat penulis. Dia juga tidak ingin untuk berhenti menulis—entah seminggu sekali, sebulan sekali atau dua kali, Dulgemuk harus tetap menulis. Apa pun bisa ditulis, asalkan tetap tema yang paling disukai dan dikuasai. Begitulah, Pak Blantik selalu mengulang-ulang penegasannya kepada berbagai khalayak penulis: Menulis yang paling disukai dan paling dikuasai.

Dulgemuk sadar, dia menulis apa saja, tentang aneka fenomena yang dia jumpai, dia dengarkan lewat radio atau simak lewat televisi, atau dia simak dari obrolan para tukang sampah—namun, sesuai arahan Pak Blantik, Dulgemuk selalu berusahan memberi makna. Kadang Dulgemuk ingin mengangkat tema kemacetan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun, Dulgemuk tidak mengungkap “permukaan” (fakta-faktanya) saja, melainkan memberikan kedalaman makna padanya—entah dengan ungkapan filosofis, entah dengan refleksi mendalam atas aneka fenomena itu.

Namun, Dulgemuk tidak mengungkap “permukaan” (fakta-faktanya) saja, melainkan memberikan kedalaman makna padanya—entah dengan ungkapan filosofis, entah dengan refleksi mendalam atas aneka fenomena itu.

Selain itu, Dulgemuk juga tetap belajar aneka genre tulisan. Dia belajar menulis opini yang argumentatif, tetapi dengan bahasa ilmiah populer. Ini tulisan akademik sebenarnya, namun ia dibawakan dengan lebih santai—dengan bahasa yang bisa diterima oleh masyarakat luas. Dia kini masih belajar menembus koran—namun sudah 20 kali berkirim naskah, kok belum satu pun diterbitkan di media cetak tersebut. Meski demikian, Dulgemuk tidak terlalu kecewa. Meski ditolak koran, toh dia sudah puas telah menuntaskan tugasnya dalam menulis.

Dulgemuk juga bersemangat untuk belajar travel writing, feature writing, catatan harian, dan karya sastra (puisi, cerita, drama). Untuk mempelajari aneka genre ini, Dulgemuk memang harus berjuang mati-matian, bahkan “jatuh bangun” (kayak judul lagu ya), agar satu persatu genre tulisan tersebut dikuasainya secara perlahan. Dengan menguasai banyak genre, katanya, seseorang akan mampu menulis apa saja ke dalam bentuk genre yang diinginkan.

Dengan menguasai banyak genre, katanya, seseorang akan mampu menulis apa saja ke dalam bentuk genre yang diinginkan.

Intinya, Dulgemuk akan melakukan apa pun, agar dia tetap selalu menulis setiap hati. Dia harus memegang komitmen itu! Sebab, dia ikut mengalami trauma dengan nasib temannya yang dikeluarkan dari grup akibat tidak menulis lebih dai 3 (tiga) bulan. Yang tidak diinginkan Dulgemuk adalah kehilangan predikat penulis. Sebab, jika sampai hilang, dia tidak bisa menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) rumah virus literasi yang berbunyi: Pekerjaan: Penulis![]

Kabede, 27 Oktober 2022

BACA JUGA:

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

17 thoughts on “Menulislah Selama Status Menulismu Masih Ada”

  1. Daswatia Astuty says:

    Betul penulis ya jika menulis. Sebaliknya jika tdk menulis sudah bukan penulis.
    Dulgemuk ocehanmu selalu tepat. Supaya tulisan menarik kuasai berbagai genre…
    Sy juga berguru di Mr Blantik namun Dulgemuk sangat maju dari saya … hehehe

    1. Much Khoiri says:

      Penyebabbya, Dulgemuk bisa mepet Pak Blantik setiap hari. Kadang juga bisa cepat ngadep Master Emcho.

  2. selamat hari blogger nasional, kamis 27 Oktober 2022, https://wijayalabs.com/2022/10/27/persembahan-buku-kisah-omjay-50-tahun-menjadi-manusia/, Menulis adalah seni merangkai kata menjadi sebuah kalimat, bagaimana membuat kalimat yang cantik sehingga dapat dilirik pembaca, dan bagaimana tulisan yang dihasilkan berhasil menggugah emosi pembaca. Tidak mudah memang. Menghasilkan suatu karya seni tulisan yang indah butuh banyak pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Tetapi ini bukan hal yang tidak mungkin. Jika ada keinginan belajar, maka segalanya akan menjadi mungkin. Dari belajar menulis yang paling sederhana, cerita pribadi kita yang bisa kita tulis sebagai curahan hati, cerita apapun itu, entah itu penting atau tidak, tetaplah ditulis.

    1. admin says:

      Terima kasih atas apresiasi dan tanggapannya, Omjay

  3. Lina says:

    tersentil …

    terima kasih Dulgemuk atas sentilannya

    1. Much Khoiri says:

      Sani2, Bu Lina. Sehat selalu

  4. Wyda Asmaningaju says:

    Tulisan dulgemuk selalu menyentil saya. Bismillah semoga selalu mengispirasi

    1. Much Khoiri says:

      Bu Ayu, padahal Dulgemuk bermaksud tdk utk menyentil2. Nulis saja, smg bermanfaat.

  5. Abdisita says:

    Terima kasih pak Emcho. Selalu memotivasi menulis. Memang penulis tak kenal pensiun..

    1. Much Khoiri says:

      Siap, Bu Sita. Terima kasih atas apresiasinya. Saling menguatkan nggih

  6. Enlarry says:

    buy generic cialis online Epidemiology and five year survival

  7. Mjdwnh says:

    buy generic zaditor 1 mg buy ziprasidone generic cost imipramine 75mg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *