Serial Xentuner & Literasi (1): ASAL-USUL NAMA XENTUNER, MEMORI DARI DARIS

Oleh Much. Khoiri

Apakah Anda sudah familier dengan judul di atas? Bukalah ensiklopedia terbaru dan terlengkap, dan carilah istilah-istilah itu di sana. Saya jamin, Anda tidak akan menemukannya. Amat sulit, paling tidak.

Jangan silau ensiklopedia, kadangĀ  nama Indonesia pun tidak masuk peta dunia. Jangan pula tanya glosarium, google search, dan search engine lain. Terpenting lagi, jangan tanya dukun yang sejatinya hanya mengeksploitasi ambang bawah sadar Anda. Lebih baik bertanyalah pada hati nurani (conscience) Anda sendiri.

Berpisah dengan Xentuner. Sumber: Dok pribadi

Jika belum ketemu pula, ayo kemarilah, akan saya bisiki, bersama orang-orang itu. Nah, begitu. Coba duduk melingkar, antri, jangan gontok-gontokan. Sssst, jangan gaduh. Nah, begitu. Itu yang berdiri, segera bersila di baris belakangnya. Yang jauh mendekatlah sini. Nah, nah, oke, begitu lebih baik. Siap ya? Simak baik-baik.

Memori, itu kalian tahu. Kenangan, sesuatu yang diingat, dikenang, entah indah entah mimpi buruk. Sedangkan Daris, itu akronim dari Darul Istiqomah, sebuah ponpes yang dibangun dan diasuh oleh kiai kharismatik (tahu kharismatik toh?) alumnus PP Gontor Ponorogo, KH Masruri Abd Muchit Lc namanya. PP Daris yang berdiri sejak 1994 di Pakuniran Maesan Bondowoso itu kini membina sekitar 300 santri.

Lalu, bagaimana mobil Xentuner? Adakah nama itu di ensiklopedia atau brosur mobil yang bertumpuk di meja Anda (*konon Anda mau kredit mobil?). Jawabnya, juga tidak ada. Bahkan sepekan depan pun Anda tidak bakal menemukannya kecuali membaca tulisan ini. Nah, sudah jelas? Apa tadi? Bukan Sen-Toner loh, apalagi Se-Taner, tapi Xentuner. Nah, begitu, mantabs.

Baiklah, nama Xentuner itu merek baru untuk mobil saya. Mungkin Anda bilang: “Bukankah mobil Mas EmCho Xenia light blue?” Maka, saya jawab pula: “Benar di mata Anda, ia bernama Xenia light blue. Tapi di mata saya, sejak kopdar di Daris, ia mulai dikenal dengan ‘Xentuner’, Xenia rasa Fortuner.” Wah, ada-ada saja, begitu bathin Anda. Tegas saya: “Apa kata pikiran, itulah yang akan menjadi. Dengan berpikir Xentuner, berganti Fortuner cuma tinggal tunggu waktu.”

Memang, saya sedang mendekonstruksi alam pikiran saya untuk punya impian ber-Fortuner. (*Bila normal, berat bagi saya punya Fortuner. Namun, itu sy dekonstruksi, agar enteng dan mungkin.) Kekuatan pikiran adalah pintu terdekat dengan tercapainya target sukses. Maka, akal saya harus saya setel untuk memerintahkan otak agar berpikir dan menguatkan pikiran bahwa mobil masa depan saya itu adalah Fortuner, jika putih warnanya, itulah mobil Ust Dr. Taufiqi, pakar hypnotheraphy yang ternama itu. Milik saya light blue, putih bukan warna favorit saya.

Mengasosiasikan pikiran terhadap visual mobil putih yang gagah itu, bisa memperkuat memori saya untuk bekerja keras dan cerdas. Jika terasa capek, mobil akan membayang di pelupuk mata, serta mensanubari dalam diri saya, dan sirnalah rasa capek itu. Yang tampak hanya imajinasi naik mobil itu dan membayangkan kapan bisa menyetirnya.

Jangan dikira ini efek hipnotis Dr. Taufiqi. Sama sekali bukan. Ini justru efek kekuatan pikiran saya. Sebuah “internal drive” yang dahsyat dalam diri saya. Dalam perspektif budaya, pikiran saya ini sebuah wujud ideal kebudayaan individual, dan sekarang mulai mewujud dalam aksi atau tindakan. Kapan-kapan ia akan mewujud jadi artefaknya: yakni berupa mobil Fortuner light blue. Mobil saya Fortuner, bayangkan!

Asosiasi kedua: Saya harus lebih bersyukur, karena sudah punya Xenia yang warnanya adalah impian saya sejak muda. Itu impian saya sejak menyetir pun saya tidak pernah bermimpi. Karena itu, harus disadari bahwa hidup itu anugerah, dan karenanya harus disyukuri, lalu dengan gembira melakulan sesuatu yang terbaik. Untuk urusan akhirat, lihatlah ke atas, yakni orang-orang shalih-shalihah; tapi untuk urusan dunia, lihatlah ke bawah: masih banyak yang berada di bawahmu. Karena itu, bersyukurlah sedalam-dalamnya.

Maka, dalam hal ini saya ciptakan kebahagiaan baru dalam realitas baru, yakni menganggap mobil saya sebagai mobil Mas Taufiqi. Jadilah mobil saya “Xentuner” alias Xenia rasa Fortuner. Jangan lupa kebagiaan itu soal rasa, bukan harta, bukan yang lain-lain. Dan Xentuner adalah kebahagiaan saya saat ini, kebahagiaan yang luar biasa.

Mungkin Anda benar bahwa kebahagiaan akan sirna tatkala kepuasan telah mencapai puncaknya. Kepuasan itu pemenuhan atas dorongan nafsu. Begitu terpuaskan, nafsu apapun akan kembali ke awal alias semula. Ibaratnya, memenuhi nafsu itu seperti meminum air garam, yang terus membuat peminumnya haus dan terus haus.

Jika semua itu benar, biarlah saya menepati qanaah (menerima apa yang ada), bahkan lebih: yakni mensyukurinya: Meski hanya Xenia yang saya kendarai, Fortuner-lah sensasi rasa yang saya gelorakan di dalam hati. Dengan “sumeleh” dan “lembah manah”, rasa syukur atas apa yang dimiliki adalah kekayaan dan kebahagiaan terbesar dan tertinggi.

Jadi, ketika kami berpamitan pulang dari PP Daris, saat itu pula saya mulai menyetir Xentuner light-blue, menembus kegelapan malam, mengantarkan jiwa-jiwa merindu kekasih, seperjalanan 6-7 jam. Ternyata, kebahagiaan pun bisa dibayar lunas dengan sebuah realitas semu. Itulah Xentuner, sang pemenjara hati.*

Gresik, 22.11.2016.

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 65 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021).

4 thoughts on “Serial Xentuner & Literasi (1): ASAL-USUL NAMA XENTUNER, MEMORI DARI DARIS”

  1. Supardi Harun says:

    Wow.. Masya Allah mobil yang indah dan penuh kenangan di hati pak

    1. Much Khoiri says:

      Betul sekali, Pak. Menyimpan kenangan yg bermakna.

  2. Mukminin says:

    Mantab. Xentuner nya. Memang kita perlu afirmasi. Dg melihat dan membayangkan apa yg akan kita impikan ( Fortuner) hati kita bergerak berdoa kepada Allah utk diberi kemudahan dg mensyukuri apa yg sdh ada. Insya Allah dg keyakinan dan sungguh afirmasi kita tercapai. Mimpi kita tercapai .

    Sy sdh buktikan ketika punya PANTER 93 AC mati, mertua minta diantar periksa ke Prof. dr. Suharso di Rungkut insya Allah mudah2an nama dokter benar. Tidak mau diantar kakak yg mobilnya berAC. harus sy dg istri, maka panasnya luar biasa ketika masuk Bonbin Sby. Sepanjang perjalanan ibu ngomong terus. “Iku lho mobil putih-putih anyar-anyar apik’ awakmu Ben tukuwu ngunu” ucap ibu mertua yg sakit rematik berat. Spontan, “Dungakno Bu, Kulo enggak saget tumbas mobil RUSH PUTIH kangge ngantar jenengan berobat ke Sby dengan AC segar dan bisa ngantar ngurusi Jamah Umroh. Eh… alhamdulillah gak sampai 1 th saya beli RUSH PUTIH di TOYOTA Pecndilan Surabaya. Alhamdulilah afirmasi saya dikabulkan Allah.

    1. Much Khoiri says:

      Afirmasi, penting adanya. Matur nuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *