Serial Xentuner & Literasi (2): NAIK XENTUNER, PULANG KE CINTAKU YANG SESUNGGUHNYA

Oleh Much. Khoiri

MANUSIA boleh berencana; namun hanya Tuhan-lah yang menentukan. Ungkapan ini telah mengikat aku petang kemarin, sesaat dipungkasinya kopdar SPN di Ponpes Darul Istiqomah, Pekuniran, Maesan, Bondowoso. Ada bisikan nurani yang lembut: “Kau harus pulang malam ini. Bismillah, kuat nyetir 7 jam.”

Semula aku berencana untuk menginap semalam lagi di ponpes asuhan KH. Masruri Abdul Muchit Lc. Ponpes ini sungguh menawan hati, bukan hanya lokasinya yang asri, melainkan juga indah oleh kebiasaan indah para ustadz(ah) dan 300-an santri. Tentu, juga berkat katawadlu’an dan kesalihan (keluarga) Pak Kiai yang membuat “iri” hati yang waras. Niat menginap ini tetap terjaga hingga petang menjelang.

Istirahat sejenak di rest area. (Dokumen Pribadi)

Namun, tatkala ashar menjelang, niat itu goyah. Pasalnya, bunda anak-anakku (bukan sekadar “isteriku”) mengabarkan bahwa di rumah kami ada keluarga besar (termasuk Bapak-Ibuk dan keluarga dua adikku). Mereka membezuk anak puteriku yang beberapa hari lalu menjalani operasi (rawat jalan). Berita pun dikompliti foto-foto yang relevan. Mereka di rumah pada saat saya berada nun jauh di sana. Hiks. Hiks.

Maka, ketika acara refleksi usai, kuputuskan untuk pulang, tidak menginap lagi. Bahwa aku lelah dan mungkin akan mengantuk saat menyetir, aku tahu. Namun, aku yakin ada teman-teman seperjalanan yang bisa mengajakku mengobrol agar lebih lama terjaga. Orang mengantuk, antara lain, karena  ia (merasa) sendirian dan kesepian. Selebihnya, karena panggilan alam.

Selain itu, Xentuner-ku (Xenia rasa Fortuner) juga full music. Nanti akan kusetel lagu-lagu yang mengiringi rombongan penulis SPN asal Surabaya. Ada Ebiet G Ade, Iwan Fals, Qasidah Nasida Ria, shalawatan Hadad Alwi, Banyuwangian,  dangdut koplo, house music, dan masih banyak lagi. Tinggal mau apa, mendayu-dayu ataukah berdentum-dentum. Dalam keadaan darurat (agak mengantuk) begini,  mobil Xentuner ini mendadak bisa diubah jadi ruang karaoke yang mengasyikkan.

***
Selepas makan malam bersama para sahabat SPN, kami (Adzi JW, Kholiel Anwar, Syaiful Rahman, dan aku) berpamitan. Bahkan berangkulan, tak ketinggalan. Mutiara doa-doa pun bertaburan di sana-sini, kiranya Tuhan melindungi kami selama perjalanan sekitar 6-7 jam, melintasi jalan-jalan yang sebagian masih asing.

Kami meninggalkan Bondowoso, bersama iringan lagu-lagu relijius Rhoma Irama. Wow, ternyata, aku sedang membawa para pecinta Bang Haji. Mereka bukan hanya ikut berdendang, melainkan juga mahir menirukan suara musik atau melodinya. Dalam hati aku bilang, “Inilah street artists SPN asal Surabaya. Jika ngamen di taman Bungkul, Surabaya, lumayan dapat uang untuk nerbitkan buku.”

***
Selepas PLTU Paiton, rasa kantuk menyerang begitu dahsyat, dan berusaha menaklukkan “kepedean”ku. Maka kulawan ia dengan keras, plus iringan shalawat tanpa henti. Untuk beberapa waktu, upayaku berhasil: mata terjaga kembali. Musik religi terus mengalir; dan kini siap disambung dengan dangdut koplo. Namun, manusia ada batasnya, bahkan amat dekat dengan kelemahannya. Maka, serangan rasa kantuk itu membuatku menyerah tanpa daya.

Kami pun mampir sejenak untuk ngopi susu-jahe dan membeli oleh-oleh tape khas Bondowoso. Juga klethikan untuk teman melekan di perjalanan. Sekali lagi, agar tidak mengantuk, jangan sendirian dan kesepian, harus ada teman atau kegiatan pendamping. Maka, mekanan kecil bolehlah diadopsi untuk penjaga mata. Jangan mekanan besar, bisa menyaingi ukuran badan driver-nya. Hehehe.

Amazing! Ini tempat ritual wajib bagi rombongan pariwisata. Mereka beli oleh-oleh di tempat bermagnit ini. O bukan. Mereka bukan membeli oleh-oleh saja, namun membeli prestise. Lha semua oleh-oleh itu toh ada di daerahnya masing-masing. Agar pantes, berbelanjalah mereka di sini, untuk menggenggam prestise. Bukankah prestise itu representasi status dan gaya hidup?

Aku bayangkan berapa juta omset pemasaran oleh-oleh itu. Produknya mantap, harganya cukup terjangkau (bagi yang punya uang, tentunya), tempatnya strategis, penjajanya juga ramah, mengamalkan praktik promosi (direct selling) yang menawan. Tanpa sadar mereka telah menghayati Marketing Mix dengan lihai. Sebuah hamparan ayat Tuhan yang tak tertulis namun terpampang jelas di depan mata.

***
Pukul 10.50 kami sudah merambah bumi Pasuruan, kota santri yang juga terkenal dengan wisata religi Kiai Hamid. Aku hapal betul jalan-jalan di seluruh kota ini, karena memang pernah jadi warga yang baik. Maka, ketika Kholiel Anwar ingin mampir ATM sebuah bank, beberapa menit kemudian, aku telah membelokkan Xentunerku ke sebuah gedung bank. Sementara, aku berpesan: “Monggo kontak keluarga. Dalam maks 90 menit kita akan tiba di Surabaya.”

Benar saja, selepas Pasuruan, lalu Bangil, Gempol, naik tol dan beriringan dengan raja-raja jalanan tengah malam, kami menembus kegelapan. Kegelapanlah yang membedakan bahwa lampu mobil Xentunerku berfungsi: menunjukkan ke mana ban-ban itu harus berpacu di punggung aspal yang kesepian.

Apal kaji karena diulang, apal jalan karena ditempuh. Ya, hanya karena ditempuh, akhirnya kami memasuki Surabaya. Agar memudahkan Mas Adzi JW dan Mas Kholiel Anwar menemukan kendaraan untuk menuju rumah masing-masing, maka aku turun tol terdekat Bungurasih. Di sekitar terminal bis ini, banyak taksi atau ojek yang bisa dipilih. Mereka pastilah suka dengan kedatangan calon pemberi duit. Di mata mereka duit adalah rezeki yang menawan.

Setelah itu, aku tidak mengikuti kisah dua sahabat itu. Mereka akan menuliskan kisahnya masing-masing. Aku masih punya tanggungan, yakni memampirkan Mas Syaiful Rahman ke kawasan kampus Ketintang Unesa. Dari Bungurasih aku cukup mengambil Jln. A Yani arah ke utara, dan tak lama kemudian Xentuner aku belokkan ke arah Jln. Ketintang. Di pintu gerbang kampus literasi ini aku turunkan penulis muda asal Sumenep tersebut.

Maka, di sisa perjalanan pulangku, masih satu jam lagi, aku harus rela sendirian (tapi tidak kesepian). Hakikatnya manusia bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Jadi, bila aku sendiri sekarang, itu sudah pas dengan garis sunnatullah. Bukankah suatu saat aku juga akan sendiri tatkala “berpulang” kepada-Nya? (*lebai.com).

Sungguh, syukurku memenuhi rongga dada. Menyetir di seputar tengah malam, membelah Surabaya yang biasanya padat, amat menyenangkan. Serasa di hari-hari ied saja: lengang dan nyaman. Di malam begini Kota Pahlawan ini menjadi kota paling beradab dan ramah, seakan menjadi tuan rumah yang paling santun dan dermawan.

Dari Jln. Mastrip, masuk ke Jln.Wiyung, kemudian Babatan, Lidah Kulon, Lakarsantri ke selatan menuju Perumnas Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik. Di antara ribuan rumah yang tersebar di 16 blok luas inilah rumah sederhanaku berada. Bangunan 14mx14m inilah yang kami sebut “home” (tempat hunian yang ‘baiti jannati’), bukan sekadar “house” (rumah dalam arti harafiah).

Alhamdulillah, akhirnya pukul 01.00 aku sudah tiba di rumah, tempat orang-orang tercinta berhuni dan menghayati pengalaman hidup sehari-hari. Baiti jannati inilah yang mengharuskan aku pulang, meski aku harus membayarnya dengan perjalanan 6 jam. Dalam hati aku bergumam, “Ke sinilah aku pulang, untuk menemukan kembali cintaku yang sesungguhnya.”

Driyorejo, 21.11.2016 

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 65 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021).

9 thoughts on “Serial Xentuner & Literasi (2): NAIK XENTUNER, PULANG KE CINTAKU YANG SESUNGGUHNYA”

  1. Selamat pagi pak. Apa kabar? Uraian kisah mengantar pembaca ikut hanyut dalam perjalanan. Menarik

    1. Tintin Muryani says:

      Betul tulisan P Khoiri membuat pembacanya hanyut dalam kisahnya … luar biasa sekali

      1. Much Khoiri says:

        Terima kasih, Bu Tintin.

    2. Much Khoiri says:

      Terima kasih, Pak Bani.

  2. Mukminin says:

    Alhamdulilah mobil barokah

    1. Much Khoiri says:

      Alhamdulillah, makasih atas kumjungannya

  3. endang lilif says:

    Mengikuti alur ceritanya pak, memang menghanyutkan .. Salam literasi

    1. Much Khoiri says:

      Matur nuwun sanget.

  4. Restu Utami says:

    Alhamdulillah…
    Jadi terhibur dan tambah ilmu dalam hal menulis ini.
    Matur nuwun sanget Bapak…sudah berbagi
    Salam literasi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *