MENULIS, BEKERJA DENGAN IRINGAN DOA

Oleh Much. Khoiri

JUDUL di atas menyiratkan bahwa menulis itu bekerja. Benarkah demikian? Tentu jawabnya tidaklah tunggal. Ada yang memaknainya sebagai kegiatan untuk kesenangan, untuk mengamalkan suatu kebaikan, atau untuk bekerja dalam memperoleh penghidupan. Untuk Anda yang menekuni dunia menulis selama ini, bagaimana Anda mendefinisikan menulis itu?

Kemudian, marilah jumpai Pramoedya Ananta Toer, untuk meminjam salah satu kutipan yang terkenal (bahkan kerap diungkapan para naras umber dalam aneka pelatihan menulis), yang berbunyi begini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sumber gambar: https://www.redbubble.com/i/sticker/Ora-et-Labora-Cursive-by-salmonsoul/74042288.EJUG5

Jika ditelusuri hingga makna hakikinya, menulis layak dianggap sebagai kegiatan bekerja, entah bekerja yang berpenghasilan finansial, entah berpenghasilan non-finansial. Ketika menulis, orang melakukan sesuatu kegiatan, pekerjaan, karya (works). Itulah sebabnya, dalam bahasa Inggris, karya tulis disebut “works”.  Secara kasat mata, dengan demikian, menulis tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bekerja.

Pertanyaannya, bagaimana Anda, sebagai penulis—karya fiksi atau karya nonfiksi—bekerja menulis dalam rangka mewujudkan impian sendiri? Apakah Anda sudah bekerja dengan keras dan cerdas serta menyandarkan hasil ikhtiar Anda kepada Allah Yang Maha Kuasa?

Pada kesempatan ini, saya ajak Anda untuk menghayati dan mengamalkan motto ini: menulis, bekerja dengan doa. Ini mirip dengan frase Latin ora et labora, yang berarti doa dan kerja. Namun, titik beratnya adalah bekerjalah dengan iringan kekuatan doa.

Tak dimungkiri, pada hakikatnya menulis itu bekerja. Karena itu, setiap Anda menulis, mulai persiapan hingga akhir proses, Anda wajib memayungi diri dengan doa—menurut keyakinan masing-masing. Dalam Islam, sebelum memulai menulis, dasari diri dengan basmalah, dan akhiri tulisan Anda dengan hamdalah.

Ini dimaksudkan agar gerak badaniah Anda dalam menulis didorong dan dikuatkan oleh gerak bathiniah. Ada perpaduan tak terpisahkan antara gerak bathiniah dan gerak badaniah ini. Mengapa hal ini penting? Gerak badaniah itu penuh keterbatasan, sedangkan gerak bathiniah tak berbatas. Orang boleh sakit fisiknya, namun kalbunya masih bisa selalu hidup sehat. Jika gerak badaniah lemah, garak bathiniahlah yang harus menguatkannya.

Kekuatan doa inilah yang perlu selalu Anda tanamkan selama bekerja menulis—entah menulis setiap hari, setiap dua hari, atau setiap tiga hari sekali. Menyiapkan rancangan tulisan atas nama Tuhan, memulai tulisan atas nama Tuhan, dan terus menulis atas nama Tuhan. Sepanjang waktu menulis Anda tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Maka, secara tak disadari, Anda sedang bekerja menulis atas bantuan Tuhan.

Apa yang mustahil jika Tuhan selalu bersama Anda selama menulis? Doa-doa Anda lah yang membuat Tuhan bersama Anda menuangkan gagasan, pengalaman, dan apapun yang ingin Anda luapkan. Amat boleh jadi, dengan bantuan Tuhan, pikiran Anda jernih dan cerdas, hati Anda tenang dan bijak, tangan Anda lincah menari di atas dashboard laptop/komputer, mata Anda bening sepanjang waktu menulis, dan badan Anda kuat untuk duduk berlama-lama. Tidak mustahil, karena semua itu atas ridha Tuhan.

Mengapa demikian? Dalam bahasa spiritual, segala yang melekat pada diri kita itu terhingga, sedangkan Tuhan tidak terhingga. Jika Anda berdoa selama  bekerja menulis, biarlah segala keterbatasan atau keterhinggaan Anda ditutupi oleh ketakterhinggaan Tuhan. Jika Anda sedikit kelelahan, biarlah Tuhan yang menguatkan fisik Anda, sehingga sebuah naskah bisa tuntas dalam waktu relatif singkat. Bukankah Tuhan itu Maha segala-galanya dan melimpahkan pertolongan bagi hamba-Nya yang berdoa?

Dengan campur tangan Tuhan, pastilah banyak keajaiban tak terduga. Saya teringat, Ustaz Yusuf Mansur—ulama muda yang alim itu. Suatu ketika Pak Ustaz berkisah bahwa dia menulis buku—saya lupa judulnya—hanya dalam waktu beberapa malam. Ada keajaiban yang tak masuk akal. Seakan Tuhan telah menggerakkan segala sesuatunya yang ada dalam diri Pak Ustaz untuk menulis sebegitu cepat. Dia mengaku, tanpa izin Tuhan, penulisan buku yang ratusan halaman itu mustahil. Sungguh, sebuah keajaiban.

Konon, Pak Ustaz ini menulis tiap tengah malam hingga pagi hari setelah subuh, sampai-sampai di bawah matanya ada bekas kurang tidur dan bekerja terus-menerus selama berbulan-bulan. Buahnya, naskah serial Wisata Hati-nya menembus jumlah 40 judul, sebagian di antaranya telah diterbitkan. Bukunya yang terkenal Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang dan Kun Fayakun. Hebatnya, dia menyedekahkah royalti sebagian bukunya untuk Ponpes Wisata Hati—untuk tetap menguatkan keterikatannya dengan Tuhan.

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, M.A. juga ulama ahli tafsir yang sangat produktif menulis. Tak diragukan lagi, beliau juga selalu mengiringi setiap gerak hidupnya dengan dzikir dan doa. Tercatat, sejak buku pertama Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya terbit (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984), hingga tahun 2012 saja beliau telah menerbitkan buku 51 judul—sebagian dengan lebih dari dua buku. Buku beliau yang terbit tahun 2012 itu adalah Tafîr Al-Lubâb; Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah Al-Qur’ân (Boxset terdiri dari 4 buku) (Jakarta: Lentera Hati, Juli 2012). Sulit dibayangkan bagaimana semua itu dilakoninya.

Berikutnya adalah Prof. Dr. Imam Suprayoga, mantan rektor UIN Maliki Malang. Pada tahun 2012 beliau pernah menuturkan dalam sebuah forum, bahwa sampai detik itu beliau telah menulis satu artikel setiap selesai shalat subuh selama lima tahun berturut-turut. Jika dijumlah, artikel yang ditulis setiap selesai shalat subuh ini mencapai 1825-an buah. Dengan asumsi satu buku terdiri atas 50 buah artikel, seluruh artikel beliau bisa disusun menjadi sekitar 36 buku. Konsistensi menulis semacam itu mustahil terjadi andaikata tanpa campur tangan Tuhan. Sungguh, terima kasih, beliaulah yang menjadi inspirator bagi saya untuk menulis setiap hari.

Buya Hamka juga seorang teladan yang bagus. Beliau itu ulama kharismatik, politisi, dan sastrawan. Sebelum Si Sabariah (1928), beliau telah menulis Khatibul Ummah Jilid 1-3., demikian berderet-deret (kadang setahun sampai 4 buku yang terbit) hingga buku-buku beliau yang terbit tahun 1975-an seperti Kedudukan Perempuan dalam Islam (1973), Doa-doa Rasulullah S.A.W (1974), atau Muhammadiyah di Minangkabau (1975).  Di antara karya beliau, novel yang terkenal adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937). Jumlah karya beliau puluhan, bahkan ada yang mencatat di atas seratus judul buku. Semua ini mustahil terwujud tanpa campur tangan Tuhan.

Pendeta Prof. Dr. H.L. Senduk juga demikian. Pendeta yang selama hidupnya mengabdi di jalan Tuhan ini menulis puluhan buku, bahkan digunakan sebagai materi kurikulum standar program Pendeta Pembantu (PdP) dan program Pendeta Muda (Pdm). Ummat Kristiani pastilah telah akrab dengan buku-buku beliau seperti Pengetahuan Alkitab 1, Kristus dalam Perjanjian Lama 1-2, Kristus dalam Perjanjian Baru, Penginjil yang Sukses, Kuasa Doa, Etika Kristen, Kedewasaan Rohani, Kenabian dan Kerasulan, dan sebagainya. Sebuah prestasi yang mustahil hanya diraih dengan kekuatan gerak badiah semata.

Di kalangan umat Hindu juga dikenal para dharmika (pengamal Sanatana Dharma) yang mumpuni. Di antaranya Mohandas Karamchand “Mahatma” Gandhi, Bapak Kemerdekaan India, yang selalu membaca Bhagavadgita untuk memperoleh inspirasi. Ada Shrila Prabhupadha yang terkenal dengan terjemahan Bhagavadgita ke dalam bahasa Inggris, atau Nyoman Suandi Pendit dengan terjemahan Bhagavadgita dalam bahasa Indonesia. Ada pula Ngakan Made Madrasuta, cendekiawan Hindu Indonesia yang banyak menerjemahkan buku, menulis buku, dan menulis artikel-artikel yang membangkitkan semangat umat Hindu Indonesia. Satu lagi, ada Adi Shankaracarya, seorang cendekiawan/penulis Hindu ternama yang berkata tentang Adi Shankara-Archarya: “Beliau adalah bintang cemerlang di langit sanatana dharma.”

Di kalangan umat Budha tokoh-tokoh yang dapat dipandang sebagai Bodhisattva masa kini ini menghadirkan Buddhadharma untuk menjawab problematik kemanusiaan masa kini. Mereka menjadikan Buddhadharma hidup nyata sesuai dengan perkembagan dunia dan persoalan penderitaan yang tengah dihadapi manusia. Di antara nama-nama Bodhisattva adalah Master Hsing Yun, Dalai Lama, Bhikkhu Buddhadasa, Thich Nhat Hanh, Sulak Sivaraksa, Dr. Ambedkar, Dr. Ariyaratne, Master Cheng Yen, dan Dr. Chatsumarn Kabilsingh. Dalam menyebarkan budhadharma, dengan sekte masing-masing, mereka juga menulis—yang juga dilandasi pengamalan dharmanya sebagai Bodhisattva.

Contoh-contoh di atas saya tunjukkan sebagai bukti bahwa para tokoh agama pun menulis untuk menyampaikan pesan-pesan dakwahnya kepada umat, dan dalam menulis mereka tidaklah sendiri. Mereka menulis dengan iringan kekuatan doa, dengan energi yang tak terhingga, sehingga dampak dakwahnya nyaris tak mengenal batas tempat dan waktu.

Jadi, mulai sekarang, ayo menulislah dengan iringan doa. Jangan lepaskan diri dari-Nya. Dengan bersama-Nya, sesuatu yang kelihatannya mustahil, bisa berubah menjadi kenyataan. Dengan bantuan ketakterhinggaan Tuhan, ayo rasakan dampaknya kelak: Tulisan Anda membuat Anda ada. Tulisan Anda mengabadi di hati dan mengembang dalam alam pikiran penulis masa depan. Mudah-mudahan.*

 

*Tulisan diadaptasi dari salah satu artikel di buku sendiri berjudul “Pagi Pegawai Petang Pengarang” (Genius Media, 2015).

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 65 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021).

6 thoughts on “MENULIS, BEKERJA DENGAN IRINGAN DOA”

  1. Mukminin says:

    Luar biasa, sll menginspirasi dan memotivasi “Menulislah dg nama Allah, dan bersama Allah, dan karena Allah. Terima kasih Abah Khoiri SUPER

  2. Eka Budianta says:

    Senang bisa mengikuti pemikiran Pak Khoiri. Salam sehat.

  3. Repan Efendi says:

    Mantul Master

  4. Inspiratif Bapak Dosen Much Khoiri, semakin menyemangati saya untuk menulis, mksh. 🤩🙏

  5. Sumintarsih says:

    Terima. kasih Pak….
    Terus berporoses.

  6. Emy Dyah Susilaningtyas says:

    Semakin saya saya membaca tulisan Panjenengan Pak Khoiri, semakin terasa bahwa selama saya ini sangat kurang porsi membacanya. Semoga hal ini akan memacu saya untuk menggiatkan kembali kegemaran membaca saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *