HIJRAH KULTURAL: SISWA DIGITAL DAN GURU KREATIF

Oleh: Much. Khoiri

Hijrah kultural yang dialami manusia di era disrupsi, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, mengambil wujud idea/gagasan, aksi/tindakan, dan artefak/karya. Dalam konteks pendidikan, manusia di sini mengacu ke siswa dan guru—yakni siswa (melek) digital dan guru kreatif.

Di gedung KBRI di Prague, Ceko (2019). Gbr: Dok Pribadi

Sebagai bagian manusia yang berhijrah kultural, siswa dewasa ini adalah siswa melek digital (digital native learners), yang—menurut Hameed, Badii, dan Cullen (2008)—memiliki 5 cirikhas: Pertama, mereka suka informasi dari aneka sumber dan media. Kedua, mereka suka aktivitas-aktivitas yang multitasking alias tidak monoton. Kemonotonan tidak disukainya sebab hal itu menimbulkan kejenuhan dan kebosanan.

Ketiga, siswa melek digital, tentu, memilih media digital. Itulah dunia mereka, yang dengannya mereka bisa saling terhubung dengan teman-teman, bahkan mereka bisa memperoleh sumber belajar yang diinginkan. Sebab itu, efeknya, keempat, mereka belajar saat ada peluang. Maksudnya, mereka memilih sendiri waktu dan tempat mereka belajar. Nasihat konvensional barangkali tidak sepenuhnya berlaku bagi mereka; sebab hakikatnya mereka memiliki gaya tersendiri.

Kelima, siswa melek digital memilih materi yang menyenangkan, berguna, dan relevan. Oleh karena itu, perlu tersedia aneka materi dengan varian-varian yang menarik. Dengan demikian, materi-materi yang disusun tanpa kreativitas pastilah membosankan di mata mereka. Jika tidak beruntung, materi sedemikian akan mendatangkan pemicu depresi bagi siswa.

Sekarang, mari perhatikan karakteristik siswa melek digital tersebut. Jika mereka memenuhi kelima cirikhas tersebut, bisa dipastikan bahwa mereka termasuk siswa-siswa yang canggih. Demikian pun jika mereka memiliki sebagian cirikhas. Karena itu, guru perlu mengukur potensi diri apakah sudah memiliki kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa melek digital. Hal ini berguna untuk mengantisipasi sikap dan langkah apa yang harus diambil untuk menjawab dan mengimbangi—atau bahkan melebihi—kemampuan teknis siswa dalam pemanfaatan teknologi digital.

Itulah sebabnya guru dituntut untuk berhijrah kultural atau bertransformasi menjadi guru kreatif. Apakah yang dimaksud guru kreatif itu? Secara umum, guru kreatif itu guru yang berbudaya kreatif di era teknologi digitalisasi dan era disrupsi, yang seharusnya memiliki kemampuan teknis dalam pemanfaatan teknologi digital setidaknya sepadan dengan siswa. Idealnya, kemampuan teknis guru harus jauh lebih baik dari pada kemampuan siswa.

Sementara itu, secara khusus, guru kreatif adalah guru yang memenuhi persyaratan berikut ini: (1) memiliki kemampuan menulis, (2) menggunakan reward, (3) menggunakan PPT kreatif, (4) memiliki kanal youtube, (5) memiliki media pembelajaran online, (6) memiliki akun media sosial semisal instagram, facebook, twitter; dan (7) memilik blog (pribadi). Tujuh butir layak dijadikan acuan untuk mengukur kemampuan diri masing-masing.

Pertanyaannya, apakah sebagai guru kita telah memenuhi ketujuh persyaratan di atas? Atau berapa butir persyaratan yang telah kita kuasai dan berapa butir yang belum kita kuasai? Jika belum menguasai tujuh persyaratan, adakah tekad kita untuk mau belajar dan mengejar ketertinggalan sehingga semua persyaratan itu dapat kita kuasai dengan baik. Masalahnya bukan hanya terletak pada sudah terpenuhinya persyaratan, melainkan juga pada tekad untuk belajar secara berkelanjutan sejalan dengan perubahan budaya.[]

*Much. Khoiri adalah dosen, penggerak literasi, blogger, youtuber, editor, penulis buku dari Unesa Surabaya; Ketua PGRI SLCC Kota Surabaya Tulisan ini pendapat pribadi.

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

10 thoughts on “HIJRAH KULTURAL: SISWA DIGITAL DAN GURU KREATIF”

  1. Hariyanto says:

    Betul Pak ….bahwa.Guryu kreatif itu bukan sekedar memenuhi syarat yang disebutkan di atas….yang lebih penting jiwanya tetap mau beljar berkelanjutan …alias sepanjang hayat . Sangat setuju.

  2. Mukminin says:

    Setuju belajar sepanjang hayat. Mr. Terima kasih

    1. Cahyati says:

      Spirit Long life education yang ditersirat di tulisan prof Emcho kali ini bukan sekedar tag line… Tapi harus dilakukan guru yang mengajar generasi z di era digital agar tidak ditinggalkan mereka.

  3. Supardi Harun says:

    Tulisan yang luar biasa pa dosen. Fotonya juga lagi di Ceko,

  4. Robiatul Adawiyah says:

    Setuju sekali Pak Khoiri, no 5 dan 7 harus dicoba

  5. Agustan says:

    Setuju, kemampuan digitalisasi guru sebaiknya melebihi kemampuan siswa.

  6. Dhiana Kurniasari Ch says:

    Long Life education…..
    Sll keren tulisannya

  7. Muliadi says:

    Penjelasan yang mencerahkan, terimakasih prof, saya juga alumni’ unesa

  8. Gonalh says:

    tricor 160mg for sale buy tricor 200mg generic order tricor 160mg without prescription

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *