Serial Write or Die (8): MENULIS MEWARNAI PERADABAN

Oleh Much. Khoiri

SALAH SATU sisi pendidikan adalah pendidikan literasi. Pada praktiknya, aksentuasi regulasi dan implementasinya diarahkan untuk pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran membaca dan menulis. Dalam membangun kebudayaan dan peradaban, membaca dan menulis adalah keniscayaan yang harus dilakukan sebuah bangsa.

Mengapa membaca dan menulis? Keduanya merupakan literasi teks yang memberikan peluang besar untuk diturunkan dari generasi ke generasi. Membaca menuntut teks yang dibaca; sedangkan menulis menuntut orang untuk menghasilkan teks. Ada jejak-jejak kultural berupa tulisan dari kegiatan menulis, yang akan ditindaklanjuti dengan membaca dan kemudian menulis lagi.

Sejumlah buku sendiri, Gambar: Dokumen Pribadi

Secara khusus, tulisan ini membahas tentang bagaimana menulis mewarnai kebudayaan/peradaban. Sepintas hal ini mustahil, namun sejatinya sangat masuk akal. Sejalan dengan itu, penulis memiliki kedudukan penting dan mulia. Ada sejumlah buku berpengaruh yang berhasil mengubah dunia, karena mereka membuat pembaca berpikir, bersikap, dan bertindak untuk mengubah diri dan sekitarnya.

Bagaimana menulis bisa mewarnai budaya? Setidaknya, cara kerjanya dimulai dari ranah gagasan. Gagasan bisa dipengaruhi lewat tulisan (di samping lewat lisan). Ketika gagasan orang terpengaruh, dia siap berubah sejak dari dalam pikiran. Perubahan budaya, hakikatnya, bersumber dari perubahan dari pikiran sebagai wujud ideal. Inilah letak sumber budaya individual yang bakal berakumulasi dengan budaya individual lain untuk mewarnai budaya bersama.

Maka, stimulus pikiran (sumber budaya individual) akan menggerakkan timbulnya respons tindakan atau praktik budaya, termasuk ritual-ritual baru. Tindakan ini pada saatnya akan menghasilkan artefak budaya. Ini modal penting bagi peradaban yang bermartabat. Sebab, akumulasi artefak budaya, praktik budaya, dan wujud ideal merupakan unsur-unsur pembangun budaya.

Bagaimana nalarnya? Tulisan akan dibaca orang lain, dipahami, serta menginspirasimya. Amat boleh jadi orang tersebut akan menghasilkan karya berikutnya. Mungkin segera setelah membaca, mungkin pula tertunda pada waktu lain. Hasil bacaan itu suatu saat akan mewujud ke dalam karya baru. Jika tidak lewat orang tersebut, mungkin penyimak ungkapan beliau saat berbicara (yang mengutip tulisan tersebut).

Jika demikian, ada kontinuitas pengetahuan dalam kewacanaan dari generasi ke generasi. Bahkan ada perkembangan yang makin kreatif dan produktif. Filsuf Plato, Aristoteles, Ibn Khaldun, dan sebagainya menurunkan banyak filsuf sesudahnya. Einstein juga banyak berutang budi pada Galileo Galilei dan guru-guru filsufnya. Ada semacam gerakan “belah amuba” dalam penyebaran pengetahuan.

Sejarah telah memberikan teladan. Tengoklah, bangsa Athena (pecinta literasi) vs Sparta (pengagung kekuatan otot). Dulu mereka saling bersaing, dan masing-masing percaya  akan kemampuannya. Maka, sejarah menyaksikan, bahwa kemasyhuran bangsa Athena yang pecinta literasi masih eksis dan berkembang berkat buku-buku hingga kini. Sedangkan Bangsa Sparta lenyap tanpa sisa. Kekuatan otot, bukan literasi, tidak menyisakan apapun juga.

Tengoklah pula, andaikata Gadjah Mada menulis memoar, kita pasti akan bisa mengkaji apa rahasia di balik kehebatan GM. Kehebatan GM menaklukkan wilayah barat hingga Tumasik semasa Tribhuwana Tunggadewi, dan wilayah timur hingga Philipina selatan semasa Hayam Wuruk, hanyalah misteri yang rawan didistorsi dalam kalimat-kalimat sejarah. Mengapa? Tentu, karena tidak ada warisan tertulis dari tokoh legendaris itu. Ya, karena GM tidak menulis memoarnya.

Saya membayangkan alangkah hebatnya bangsa Indonesia kini ketika pada masa Majapahit dulu dikembangkan budaya literasi sebagaimana Athena semasa Plato, tanah Arab semasa Harun Al-Rasyid, bangsa Mesir, dan sebagainya. Terlebih dengan adanya kolonialisme kuno di negeri ini, kita telah mengalami kiamat literasi, dan betapa sulitnya kita kini bangkit dari kehancuran ini.

Dari pelajaran di atas, marilah mencontoh para filsuf dunia, para penulis dunia, dan para penulis negeri ini. Mari mencontoh agamawan yang penulis semisal Hamka, dengan jumlah bukunya di atas 100 judul. Mari mencontoh negarawan yang penulis semisal Soekarno atau Mahatma Gandhi. Mari mencontoh tokoh pluralisme yang penulis semisal Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) atau Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).

Masing-masing kita memiliki tokoh penulis yang kita kagumi dan patut diteladani. Maka, mari berguru sepenuh hati pada mereka, dan meneladani karya-karya yang dihasilkannya. Banyak hikmah dan inspirasi yang dapat dipetik. Jika perlu, kita harus lebih bersemangat untuk menulis karya yang lebih baik.

Sebagai bangsa marilah sadar untuk bangkit menulis untuk membangun kebudayaan yang lebih baik. Ya, kesadaran adalah sumber bagi kebangkitan itu. Dalam puisinya WS Rendra menyeru: “Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Mari gelorakan kesadaran untuk menulis artikel, cerpen, puisi, dan sebagainya untuk website/blog, koran, tabloid, majalah, atau buku. Kita sebarkan sebanyak-banyaknya tulisan yang bermutu bagi masyarakat, agar pikiran mereka mendapatkan asupan nutrisi yang bermutu, yang dari mereka juga akan keluar pengetahuan yang bermutu.

Maka, mari tegaskan untuk menulis dan terus menulis. Menulis itu hakikatnya siap berperan sebagai agen “kontinuitas” pengetahuan yang mencerahkan dari generasi ke generasi. Mari terus menulis karya bermutu untuk membangun kebudayaan/peradaban yang lebih bermartabat dan berkeadaban.

Sebagai penutup, mari camkan ungkapan Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis itu bekerja utk keabadian.” Bukankah menulis itu menyejarah dan melintasi ruang-waktu?* (Copyrights@muchkhoiri).

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, sponsor literasi, blogger, certified editor & writer 74 buku dari Unesa. Di antaranya "Kitab Kehidupan" (2021) dan "Menjerat Teror(isme): Eks Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi" (2022).

5 thoughts on “Serial Write or Die (8): MENULIS MEWARNAI PERADABAN”

  1. Begitulah sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita. Semoga goresan-goresan penyadaran Kang Emcho dan semacamnya semakin menguatkan pembudayaan menulis dan membaca kepada generasi bangsa.

  2. Sumintarsih Min says:

    Insyaallah generasi yang akan datang menunjukkan minat baca tulisnya sebagai hasil menggeliatnya semangat berliterasi sekarang-sekarang ini. Amin….

  3. Nuraini Ahwan says:

    Semoga bisa tetap menulis, walaupun idenya kadang timbul tenggelam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *