MENAKAR PENTINGNYA MEMBACA SASTRA

Oleh: Much. Khoiri

Ada pertanyaan dari seorang mahasiswa S1 2020-A begini: “Sebagai mahasiswa dengan kesibukan yang padat dalam belajar, apakah memperbanyak membaca karya sastra merupakan hal yang dapat diprioritaskan? Ini mengingat adanya doktrin bahwa lebih baik menghabiskan waktu untuk membaca buku pelajaran dibandingkan membaca karya sastra yang tidak akan memberikan efek terhadap prestasi di sekolah.”

Dari pertanyaan menarik itu, ada dua hal yang perlu ditanggapi. Pertama tentang seberapa penting membaca karya sastra dibandingkan dengan mata pelajaran, dan kedua tentang adanya “doktrin” untuk lebih membaca buku pelajaran dari pada buku sastra. Tampaknya konteks pertanyaan ini adalah sekolah menengah, meski bisa ditarik pula dalam konteks perguruan tinggi pada umumnya.

Di Hallstatt, Austria (2019). Gambar: Dok Pribadi

Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dari nomor dua. Saya terkejut adanya fakta, yang disebutkan mahasiswa di atas, bahwa ada semacam “doktrin”untuk membaca buku pelajaran dari pada buku sastra. Benarkah fakta ada doktrin halus seperti itu? Apakah saking banyaknya mapel yang di-UN-kan, sehingga perlu persiapan matang untuk hanya fokus pada mapel-mapel tersebut? Dengan begitu, mapel bahasa (termasuk membaca buku sastra) diabaikan? Atau jika mapel bahasa sudah diperhatikan, namun siswa tidak pernah mendapat materi sastra?

Mudah-mudahan fakta tersebut hanya berlaku di sebagian kecil sekolah menengah dalam empat tahun terakhir ini. Mengapa? Sejak 2016 Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sudah mulai masuk ke sekolah—dan sejak itu proses pembiasaan dalam GLS mulai dijalankan. Memang siswa diminta untuk “membaca yang disukai” dalam 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Di antara buku yang dibaca siswa—sebagaimana yang telah dan sedang saya teliti—ada juga buku-buku sastra, terutama novel (baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris).

Bahkan, di sebagian sekolah telah terjadi peningkatan pelaksanaan GLS, dari tahap pembiasaan menuju tahap pengembangan—malah ada yang sudah mulai menjalankan tahap pembelajaran literasi. Dengan hadirnya tahap-tahap ini dalam praktik GLS secara nyata, sumber belajar di perpustakaan dan sudut baca sudahlah memadai—dengan aneka buku fiksi dan nonfiksi. Dalam kondisi ini ruang bagi mereka yang tidak membaca buku semakin sempit. Semua harus membaca buku, termasuk karya sastra yang disukainya.

Saya berharap, bahwa fakta adanya “doktrin” untuk hanya membaca buku-buku mapel dari pada buku sastra, hanya berlaku di sebagian (kecil) sekolah menengah, sementara sebagian besar sudah tidak ditemukan fakta sejenis. Harus diakui bahwa minat siswa membaca karya sastra masih rendah disandingkan minat siswa di negeri-negeri maju seperti Australia, Amerika, Swiss, dan sebagainya. Pemerintah mereka telah mewajibkan siswa untuk mengkhatamkan karya sastra dengan jumlah tertentu dalam setiap tahun.

Jadi, hari demi hari, saya yakin, jumlah siswa Indonesia yang membaca karya sastra akan meningkat—sehingga tragedi (baca) nol buku (sastra) (yang pernah diteliti oleh penyair Taufiq Ismail) berangsur-angsur akan hilang dari dunia pendidikan. Diperlukan aturan main yang jelas dari pemerintah (dalam hal ini Kementerian Pendidikan) untuk menyegerakan tercapainya kondisi masyarakat literat, termasuk literat sastra.

Maka, dengan perspektif itu, pertanyaan pertama “Sebagai mahasiswa dengan kesibukan yang padat dalam belajar, apakah memperbanyak membaca karya sastra merupakan hal yang dapat diprioritaskan?” bisa dijawab. Jawabannya terletak pada apakah ada “pewajiban” (dengan aturan main, regulasi) membaca karya sastra? Itu menentukan seberapa penting sebenarnya membaca karya sastra.

Jika ada pewajiban membaca karya sastra, seperti di Australia misalnya, tentu saja kegiatan membaca karya sastra bisa diprioritaskan atau dipentingkan—setidaknya tidak diabaikan serta tidak dilawan dengan doktrin-doktrin yang menakutkan siswa untuk membaca karya sastra. Jika ditelusur lebih jauh, akan ada keuntungan berantai akibat membaca karya sastra itu.

Namun, selagi belum ada pewajiban membaca karya sastra, ya anggaplah kita sedang mengikuti kegiatan GLS di sekolah, yakni membaca karya sastra sesuai kadar kemampuan dan kesempatan. Jangan curahkan semua waktumu untuk membaca sastra–meskipun kamu suka, atau terkecuali engkau berkuliah di program studi Sastra Indonesia atau Sastra Inggris misalnya, sehingga engkau bisa memenuhi passion untuk membaca karya sastra.

Namun, untuk kita secara umum, menyempatkan membaca sastra itu sangat bagus untuk perkembangan diri sendiri. Ada banyak nilai atau pesan yang bisa kita petik dari karya sastra. Saya telah melakukannya sejak muda–itulah sebabnya sekarang saya juga bisa menulis karya sastra. Andaikata dulu saya tidak pernah membaca sastra, sekarang mungkin saya asing dengan karya sastra, asing pula bagaimana menulisnya.[]

KBD Gresik 20/2/2021

#Much. Khoiri (juga disapa Mr./Pak Emcho): dosen, blogger, penulis buku.

#”Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku

#https://muchkhoiri.com

N.B. Jangan lupa memberi tanggapan. Terima kasih.

Author: admin

MUCH. KHOIRI adalah dosen Kajian Budaya/Sastra dan Creative Writing, penggerak literasi, blogger, editor, penulis 70 buku dari Unesa. #Kitab Kehidupan (Genta Hidayah, 2021). #Menjerat Teror(isme) (Uwais Inspirasi Indonesia, 2022)

12 thoughts on “MENAKAR PENTINGNYA MEMBACA SASTRA”

  1. Sriyatni says:

    Izin share ke komunitas Bapak

    1. Much. Khoiri says:

      Monggo, Bu Sriyatni. Salam sehat, salam.kreatif

  2. Mohammad Yoga Andrianto (2020B) says:

    Alhamdulillah pak, selama saya SMP dan SMK, sekolah mewajibkan para siswa/i nya untuk membaca suatu karya sastra baik itu novel, kumpulan puisi, pantun dan sebagainya, kurang lebih 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Siswa/i juga didorong untuk membawa karya sastra tertulis favoritnya untuk disimpan di dalam sebuah lemari khusus di kelas, jadi para temannya dapat bertukar buku setiap hari.

    1. Much. Khoiri says:

      Nah, berarti di sekolah Yoga sdh menerapkan GLS. Sebab itu, mengalami baca sastra, setidaknya saling tukar buku.

      Lanjutkan, Yoga.

  3. Selama SMP dan SMK memang Saya tidak pernah membaca karya sastra bahkan Baru menginjak jenjang kuliah Saya Baru Mengenal dan mempelajari karya sastra Karena itu adalah pilihan Saya , studi yang Saya ambil . Jadi memang agak asing bagi kami yang memang sejak dini tidak terbiasa membaca dan Mengenal sastra . Terlebih Saya siswi SMK dahulu Jadi memang benar benar asing Dengan sastra Karena Saya hanya dilatih dalam bidang yang Saya ambil saat SMK . Terimakasih atas tulisannya sekaligus menjawab pertanyaan Pak 🙏

    1. Much. Khoiri says:

      Inilah saatnya Dian mempelajari sastra dg baik.

  4. Annisa Ayu Dianitami 2020 B says:

    Terima kasih atas tulisan Bapak yang luar biasa. Untuk saya pribadi di SMP dan SMK sudah menjalani gerakan literasi, namun memang hanya beberapa buku yang saya baca karena keterbatasan waktu dan adanya beberapa mata pelajaran lainnya. Untuk saat ini karena saya mengambil prodi Sastra Inggris, saya mempunyai kesempatan untuk membaca lebih banyak karya sastra dan fokus didalamnya.

    1. Much. Khoiri says:

      Makasih, Icha, telah mampir, juga apresiasimu. Semoga teeus berkembang ya

  5. Sri Rahayu says:

    Semoga semakin banyak siswa yang gemar membaca yang bisa mengalahkan kegemaran ngegame akhir-akhir ini.

    1. Much. Khoiri says:

      Aamiin. Doa yg tulus akan dikabulkan.

  6. Terima kasih banyak atas tanggapan atas pertanyaan saya, Pak.
    Memang benar bahwa beberapa sekolah menengah telah menerapkan GLS tersebut. Namun nahas, menurut pengalaman pribadi, pelaksanaan dari gerakan ini dapat dinilai kurang, karena semakin lama buku untuk mencatat progres membaca siswa tidak lagi dihiraukan yang berakhir gerakan tersebut tidak dilaksanakan kembali.

    1. Much. Khoiri says:

      Oke, Hanif, makasih kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *